Assalamualaikum.
Langitnya sebiru itu, ya.
Hari itu, kami sempatkan mengunjungi ibu. Pas banget dapet libur panjang tapi ga mau pergi jauh-jauh juga. Jadi, ya, ziarah aja.
Sudah dua bulan berlalu sejak beliau jatuh hari Jumat itu. Mau menyesal, tapi apa yang harus disesalkan? Di kepalaku, skenario hari itu sudah sering kuulang, jauh sebelum beneran terjadi. Aku sering bertanya, bagaimana kalo ibu dipanggil pulang? Aku bakal ngapain? Perasaanku akan bagaimana?
Ga pernah tuntas sih. Cuma selalu merasa itu akan menjadi jalan terbaik karena beliau sudah lama sakit dan belakangan sudah mulai lelah, kenapa ga sembuh-sembuh juga karena terlalu lama merepotkan orang.
Ga repot, kok, bu. Malah sakitnya ibu jadi satu cara mendidik anak perempuanku dan juga anak lelakiku. Bahkan saat ini pun, aku merasa banyak hikmah yang bisa diambil walau tentu saja aku masih berandai-andai.
Kesedihan terdalamku adalah aku tidak lagi hidup dalam naungan doa-doanya. Tidak ada lagi yang memuji-mujiku di depan ibu-ibu pengajian. Tidak ada yang mau mendengar segala cerita absurd yang terjadi di kantor. Tidak ada lagi orang yang berulang kali meyakinkan aku bahwa aku bisa. Tidak ada lagi yang mengingatkan dan menasehati aku. Tidak ada temen ngobrol ngalor ngidul sekedarnya. Hidup ini menjadi sedikit tidak menantang lagi.
Masih ada keinginan dan tujuan dan beribu maaf yang belum terucapkan. Juga hutang budi yang tiada terhingga. Kini, tak lagi dapat kubalaskan di hadapannya.
Waktu akan menyembuhkan luka. Itu bohong belaka karena sampai hari ini aku masih saja menangisi kepergian dan ketiadaan dirinya.
Semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi Allah, ya, bu. Sampai berjumpa kembali.

No comments:
Post a Comment