![]() |
| Paspor Lama Kami |
Assalamualaikum.
Lihat berita soal paspor WNA itu kok aku jadi pengen bahas juga, ya? Aku ga mau menghakimi siapapun ya, pemirsa. Ini murni apa yang terjadi pada aku dan anak-anak dan keputusan kami waktu itu.
Jadi, walau aku sempat tinggal lama di Turki, aku masih bertahan dengan paspor hijau karena ya emang belum bisa bikin paspor merah juga sih, hehe. Waktu anak-anak harus bikin paspor, kami memutuskan untuk bikin paspor hijau juga. Ga tau, kenapa, kok dibolehinnya, ya, sama bapaknya anak-anak yang paspornya merah. Kalian mau tau, alasan dia apa? Karena paspor hijau itu murah. Iya, biaya pembuatan paspor hijau waktu itu terbilang murah, lebih murah dari paspor merah bapaknya. Jadi, ya, udin lah. Mari membuat paspor hijau.
Dilalah, ternyata, alhamdulillah, kami mengalami peristiwa yang ternyata punya paspor hijau itu jadi menguntungkan. Kebayang ga, waktu aku harus keluar dari Turkiye sama kedua anakku itu? Apa bisa aku keluar dengan bebas kalau paspor anak-anak waktu itu berwarna merah? Aku sangsi, sih. Ga kebayang dan ga mau ngebayangin soalnya parnonya bisa kumat.
Lepas dari masalah nasionalisme, imigrasi, lalala lilili, aku waktu itu cari praktisnya aja. Biarin aku yang urus kalau nanti memang harus berurusan sama administrasi Indonesia. Bener dong. Pas paspor hilang itu kan paspor kami bertiga yang hilang. Jadi, aku mengurus bukan satu tapi tiga paspor hilang. Dipalak di kantor polisi dekat rumahku. Dijutekin sama orang imigrasi karena kan kami harus segera balik ke Turkiye berhubung tiket pulang udah di tangan. Disindir-sindir di kantor kelurahan sampe aku tu harus jual nama bapakku yang pernah jadi ketua RT dan cukup kesohor lah di kantor kelurahan itu. Gitu amat jadi WNI yak?
Begitulah. Walau harus mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, aku bersyukur bisa kembali dengan selamat bersama si hijau, hehe. Sejak hari itu, aku belum perpanjang paspor lagi. Sudah kadaluarsa berapa tahun lah itu paspor. Belum ada niat mau kemana-mana juga. Negara ini memang sedang tidak baik-baik saja, tapi, percayalah, kita punya Allah, Tuhan yang Maha Segalanya. Allah bisa memulangkan aku dari Gzt ke Cgk tanpa aku punya uang cukup untuk beli tiket. Allah juga pasti bisa mengatur hidup kita di negara amburadul ini. Plus, mari kencangkan doa, meminta pertolongan Allah untuk selalu menjaga kita semua di negeri kita tercinta ini.
Jadi, kalau aku sih, bukan "Cukup orang tuanya aja yang WNI, anak-anaknya jangan", melainkan ga cukup aku aja yang WNI, anak-anakku ya, harus WNI juga lah. Paspor kuat, ya buat apa? Paspor hijau juga bisa jadi kuat kok kalau kita tau caranya. Iya, kan?

No comments:
Post a Comment