Assalamualaikum.
Kemarin ada yang posting tulisan kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah. Aku mengamini tulisan itu. Aku bisa jadi adalah salah satu yang menyesal tapi bukan karena menikahnya. Aku menikah dengan kesadaran penuh bahwa aku ingin menikah dan Allah swt berikan jalan untuk itu dan alhamdulillah, aku sudah menjalankan salah satu sunnah Rasulullah saw walau tidak berhasil mempertahankannya. Qadarullah ya.
Aku menyesal karena tidak secara penuh mengenali pasangan dan dalam perjalanannya tidak berhasil menjaga harkat dan martabat pernikahan. Walaupun hal itu tentu saja adalah sumbangsih kedua belah pihak, tetap aku menyesal.
Ketika ada pertanyaan dari mantan, "kalo dikasih kehidupan kedua, kamu masih mau ga nikah sama aku?"
Jawabanku: Ga mau lah!
Cukup sekali aku menikah dengan seseorang yang ga gw banget. Sorry not sorry.
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti perempuan di luar sana yang belum menikah dan berencana untuk menikah. Jujur sih, aku juga jadi punya trust issue sama pria. Rasa takut dan ketidakpercayaan itu akhirnya membawaku dalam dunia fantasi. Plus, hidup ternyata tidak terlalu memerlukan pria juga sih. Monmap, yak, para pria. Bukan maksud menghina ini mah. Jadi, so far, aku masih hepi-hepi wae walau kembali menyandang status jomblo.
Jadi, di satu titik, dalam pernikahan, perempuan yang lulusan universitas ternama, punya pendidikan, punya karir, mandiri menjadi kehilangan jati dirinya.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Kejadian juga loh sama aku.
Waktu itu, akhirnya aku memutuskan untuk memulai blog ini. Aku mencoba resep, memasak, memotret, menulis, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan sama blog. Aku juga ikutan ngaji online, ketemu orang-orang hebat di luar sana. Aku bikin radio, bikin skrip, rekaman, siaran. Kemudian juga memulai homeschooling buat anak-anak, menemani mereka belajar, main, bikin alat belajar, poster, dan lain sebagainya. Ini lebih baik daripada gila dan beneran jadi gila.
Untungnya aku termasuk yang introvert homebody yang kalo menyendiri seharian itu gakan bikin aku mati, jadi ya kegiatan di luar itu beneran ga menyenangkan. Apalagi kegiatan yang mengharuskan aku ketemu orang, ga banget itu mah. Belum beranjak dari rumah aja, batereku langsung low.
Yang bikin sedih adalah waktu itu pasanganku ga peka. Dia ga merasa itu sebagai sesuatu yang menurunkan standar dan perananku. Dia pikir aku seneng-seneng aja kek gitu. Ok, aku seneng di rumah. Tapi aku ga seneng loh dipaksa ketemu orang walau itu adalah teman, kerabat, apalah, apalah. Ga suka blas!
Jadi, sekarang, alhamdulillah, semua paksaan dan topeng-topeng yang bikin batereku terkuras sudah hilang. Tring! Jika hari ini, aku harus kembali mempunyai pasangan, pastinya aku bakal interogasi dulu tu orangnya. Apakah aku akan melalui hal-hal menyedihkan seperti di atas itu lagi? Apakah dia akan memaksa si introvert ini ketemu orang lain? Apakah acara nonton drakor, dracin dan lain-lain itu jadi dosa besar? Apakah si introvert yang insomnia parah ini boleh tidur sesukanya tanpa ada label pemalas, tukang tidur, dan sebagainya? Apakah aku bakal dapat uang saku dan bebas membeli apa saja yang aku suka?
Makin banyak maunya? Ya iyalah. Situ juga banyak maunya, kan? Istrinya kudu cantik, seksi, bisa masak, bisa memberikan keturunan, bisa diajak bergaul, bisa melayani dan memuaskan dirinya. Segitu banyak maunya, masih ga modalin juga. Orang kan menikah mencari kebahagiaan. Sakinah, mawaddah wa rahmah. Kalo ga ada, dan malah teraniaya, ya ngapain nikah? Nambahin sakit kepala aja!

No comments:
Post a Comment