Wednesday, November 18, 2015

Tutupnya Carrefour dan Kita

dari sini


Assalamualaikum.

Pernah membayangkan supermarket besar seperti Carrefour, tutup? Di Gaziantep, hal itu tak hanya bayangan tapi kejadian. Saya pernah menulis soal tutupnya jaringan supermarket Carrefour, Real dan Praktiker di Gaziantep dan tulisan itu dimuat di buku keluaran FLP Turki. Sebenarnya ketika saya datang di Antep, Carrefour masih ada. Saya malah sempat belanja di sana. Tapi memang sepi. Tidak banyak orang yang belanja di sana.

Kemarin ada seseorang yang posting artikel tentang perginya jaringan supermarket asing karena ketatnya persaingan dengan pengusaha lokal di Turki. Iklim usaha yang sangat kompetitif membuat pengusaha harus pintar-pintar berstrategi.

Lalu ada yang komentar, "Turki cinta produk lokal, tidak seperti di Indonesia dikit-dikit suka produk berbau bule". komentar yang menarik karena kata Indonesia itu bisa mengacu kepada 200-an juta penduduk Indonesia yang mungkin sekian persennya ada di luar negeri termasuk Turki.

Apa benar Indonesia dikit-dikit bule?
Mari kita cek pada diri kita masing-masing. Apakah kita juga dikit-dikit bule?
Saat makan diluar, dimanakah kita makan? Apakah kita memilih makan di warung makan Indonesia atau jaringan waralaba asing?

Saat makan diluar, apa kita memilih menu Indonesia atau menu bule?

Saat belanja produk mandi, buatan mana yang kita beli?

Itu hanya sedikit pertanyaan yang harusnya menjadi bahan renungan. Kalau kita menuduh Indonesia dikit-dikit bule, maka kita menuduh diri kita sendiri walau saya masih percaya tidak semua orang di Indonesia "dikit-dikit suka produk berbau bule". Jika jawaban pertanyaan di atas ternyata melengkapi tuduhan tadi maka kita sudah menjustifikasi tuduhan tersebut. Pas. Klop.

Lalu mau menyalahkan siapa?
Kali ini saya tidak mau menyalahkan pemerintah. Saya akan sibuk koreksi saja. Selama di Antep, saya rajin belanja di jaringan waralaba luar. Tapi suami seringkali mengingatkan supaya kami belanja di pasar atau market terdekat, mencari yang halal dan kalau bisa produk lokal Antep.

Jadi, wajar kalau jaringan supermarket besar gulung tikar, tutup, merger, dan sebagainya. Orang Turki sangat sadar, bangga dan percaya diri pada produk-produk buatan sendiri. Kita tentu bisa seperti mereka. Kenapa tidak. Yang pasti mulailah koreksi diri sendiri. Kita tidak bisa mengubah orang lain tapi kita bisa memulainya dari sekarang, dari yang kecil, dan dari diri kita sendiri.

Indonesia Bisa!
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...