Wednesday, September 21, 2016

Mendandani Ruang Tamu


Assalamualaikum.

Sesekali bahas interior yuk, ah.

Sebenarnya saya suka interior, arsitektur, dan printilan-printilan soal rumah sejak dulu kala. Sempet punya cita-cita jadi arsitek walau tak sampai. Tapi tetep senang memperhatikan desain rumah dan segala tetek-bengeknya. Bukan ahli, cuma sekedar jadi pemerhati.


Dulu, jaman masih lajang, ada saja yang saya buat untuk mempercantik kamar. Sekarang, karena rumah milik bersama, selera berbeda-beda, jadilah saya hanya menekankan faktor fungsi dan kepraktisan. Apalagi di Antep ada acara bersih-bersih rutin. Jadi, interior rumah sebisa mungkin simpel dan ga nyusahin saat harus dibersihkan.

Ruangan yang paling bisa didandani di apartemen kami yang kecil adalah ruang tamu atau salon. Umumnya salon berisi satu set sofa dan kursi makan. Karena luas ruangan tidak seberapa dan kursi makan yang kami inginkan belum ketemu, jadilah si salon hanya berisi sofa saja. Itupun tidak satu set.

Kebanyakan mebel di Antep adalah mebel berukuran besar, bulky, yang menuh-menuhin ruangan. Jika kita memaksakan mebel besar pada ruangan yang tak seberapa luas, pasti kita akan merasa sesak. Maka dari itu, sejak awal membeli sofa, saya memilih sofa L yang tidak terlalu banyak dijual di Antep. Hingga beberapa waktu, isi salon kami ya cuma sofa L itu, hehe.

Sebelum digeser-geser

Sampai pada suatu ketika, saat saya berniat membuat daybed dan memesannya di salah satu penjual, lalu yang datang adalah daybed jadi-jadian yang jauh dari bayangan. Si daybed itupun akhirnya saya permak dan saya tempatkan di salon sebagai teman si sofa L. Plus, lemari pendek yang dipersiapkan untuk televisi.

Daybed gagal yang berhasil diselamatkan

Dari situ, acara mendandani salon dimulai. Dari mencari table runner buat si lemari pendek yang juaranya tetep buatan Indonesia. Ehem. Kemudian menyusun pigura-pigura yang sudah ada, di satu sisi dinding. Membawa perabot dari rumah di Jakarta di saat mudik. Lumayan kan daripada beli lagi. Sampai mencari karpet yang cocok dan menambah beberapa tanaman yang kebetulan memang sengaja ditanam didalam ruangan.

Jadikan satu biar fokus ^_^

Salah satu tanaman dalam ruangan plus
vas bunga warisan nenek

Soal karpet, Antep juaranya. Tapi karpet Antep, ya, standar. Lalu saya mendapatkan karpet bambu warna teak yang kemudian saya pakai di ruang tamu tapi jahitannya tidak terlalu bagus sehingga benangnya terurai. Akhirnya karpet bambu itu hanya dipakai sesekali. Seandainya karpet lampit kalimantan itu bisa dibawa ke Antep, yaaa. Pilihan akhirnya jatuh pada kilim, karpet yang ringan dan bisa dicuci sendiri, khas Turki.

Akhirnya kilim jadi pilihan

Jadi, seperti itulah penampakan terakhir salon kami. Masih tetap mengedepankan fungsi dan berusaha kompak soal warna. Dengan perabot seperti itu, ruangan yang tak seberapa luas bisa tetap optimal fungsi dan estetikanya. Hadooh bahasanya. Plus, tidak terlalu merepotkan saat harus dibersihkan mengingat si dinding yang juga harus dilap sambil geser-geser sofa. Kebayang kan kalau ruangannya penuh dengan perabot yang besar dan berat?

Tak lupa, saya menggunakan skema warna ini untuk memandu mencocokkan warna-warna di ruangan. Saya dapat di google.



Semoga bisa jadi inspirasi interior rumah Anda. ^_^
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...