Thursday, July 3, 2014

Bertamu

dari sini


Assalamualaikum.

Saya bukanlah orang yang suka bertamu. Kedatangan tamu, juga tidak suka, apalagi kalau tamunya OT. Kalau tamunya sesama WNI, saya masih bisa terima dengan senang hati. Ini bukan masalah rasisme, loh.

Bertamu atau menerima tamu OT itu membutuhkan persiapan yang berbeda. Cara menjamunya pun berbeda. Dan saya, walau sudah empat tahun di Antep, masih belum biasa dan bisa melakukannya. Sesekali saya terpaksa melakukannya dan saya kesal.

Begini cara OT bertamu.


Mereka datang. Biasanya tuan rumah akan memberikan kolonya untuk mencuci tangan karena tamu akan disuguhi makanan. Buat saya, ini aneh. Tamu dipaksa "cuci tangan" dan pencuci tangannya bahan kimia pula. Mereka kan bisa cuci tangan sendiri di kamar mandi kalau memang mereka mau.

Setelah itu mereka disuguhi kue-kue, bisa butan sendiri bisa juga buatan toko. Teh juga disajikan. Gelas teh akan diisi ulang sampai si tamu bilang cukup.

Setelah kue-kue, jika belum akan pergi, si tamu akan disuguhi buah beraneka ragam sesuai persediaan di kulkas tuan rumah. Biasanya dilengkapi dengan pisau buah. Silakan dinikmati buah yang kita suka. Jika kita tak menyentuhnya, mereka akan menyuruh kita, "ayo dimakan buahnya."

Itu belum termasuk acara makan berat yang bisa saja terjadi terutama jika si tamu datang pas jam makan. Jadi bisa dibayangkan berapa lama kira-kira proses bertamu di rumah OT dan berapa banyak topik pembicaraan yang harus disiapkan. #ehem.

Oleh karena itu saya tidak menyukainya. Jika tamu datang pun saya tidak suka karena OT sering kali tidak menyantap hidangan yang disajikan walau sudah dihantar dalam piring masing-masing. Kadang makanan hanya diacak-acak dan tidak dihabiskan. Berbeda halnya dengan orang Indonesia.

Jika disuguhi kita akan basa-basi, "jangan repot-repot. Air putih saja." Dan kita biasanya menghabiskan apa yang disajikan sebagai bentuk penghormatan pada tuan rumah yang sudah menyajikan.

Berulang kali saya menolak ajakan suami untuk berkunjung ke rumah temannya. Alasan saya hanya saya tidak tahan dengan prosesi bertamu di rumah OT dan alasan itu diwakili dengan satu kata sederhana: malas. Saya malas bertamu di rumah OT.

Tapi beberapa kali saya tidak bisa menolak ajakan suami untuk bertamu. Kemarin salah satunya. Untuk mengurangi kadar kebetean saya biasa mengajak bumer tapi saat ini beliau sedang di luar kota jadi saya tak punya amunisi pengusir bete. Jadilah saya perbanyak istighfar mohon ampun kepada Alloh. Pasti dosa saya banyak sekali sampai-sampai Alloh takdirkan saya melakukan sesuatu yang sangat berat buat saya.

Lokasi rumah yang akan kami tuju ini lumayan jauh. Dan ternyata rumah biasa seperti di Indonesia, bukan apartemen. Daerahnya pun bukan daerah perumahan. Sepi dan seperti terisolasi.

Tiba di depan rumah, sepi. Pintu pagar hitam dari besi pun tertutup. Pagar sekelilingnya terbuat dari tembok yang menjulang tinggi. Kita harus menelepon tuan rumah supaya mereka membukakan pintu. Tak lama pintu terbuka. Ternyata itu adalah pintu otomatis. Wow.

Di pekarangan tidak banyak barang. Ada mobil putih berinisial si pemilik di garasi. Ada kandang besar diwarnai suara erangan, seperti Anjing tapi saya tidak bisa melihat jenisnya. Cahaya remang-remang menghiasi sekitar rumah yang didominasi kayu itu.

Tuan rumah adalah pengacara teman suami. Saya sudah pernah bertemu di kantornya dulu tapi baru kali ini kami datang ke rumahnya. Ia menyambut kami dan mempersilakan kami masuk. Saya mulai merasa tidak nyaman. Anak-anak juga.

Seorang perempuan keluar menyambut saya. Pasti istrinya. Suami saya pernah bilang kalau istri si tuan rumah berasal dari Moldova. Karena itu suami memaksa saya untuk bisa berkunjung. Jujur saja, saya tak berharap banyak. Pertemuan dengan gelin dari bangsa lain yang saya lakukan sebelumnya tidak terlalu menyenangkan. Dia sibuk jalan mondar-mandir dari ruang tamu ke dapur untuk melayani kami. Dia juga tidak mengajak saya berbicara. Katanya dia bisa bahasa Inggris tapi malah bertanya kepada saya dalam bahasa Turki. Belum lagi suami dan bumernya yang mengomentari gaya pakaian saya yang lebar-lebar. "Kamu harus berpakaian seperti perempuan Antep karena kan kamu tinggal di Antep." #hellow (pengen ninju mukanya ga sih?)

Anak-anak mulai rewel tapi berangsur cair ketika bapaknya menemani. Setelah shalat maghrib saya duduk sambil menemani anak-anak yang mulai bisa beradaptasi. Perempuan itu lalu duduk di sofa sebelah saya.

"I am jealous of you. Kamu berbicara bahasa ibu kamu dengan anak-anakmu. Bahasa apa itu?" Ujarnya tiba-tiba.

Saya langsung merekam ungkapan cemburunya. Belum pernah selama saya tinggal di Turki ada orang yang cemburu pada saya mengenai bahasa. Yang ada malah orang susah dikasih tau.

Dia mengatakan bahwa sebelumnya dia berusaha bicara dengan bahasa Rusia (bahasa ibunya) kepada anaknya tapi tak lama ia menyerah. Entah apa alasannya. Yang pasti sekarang ia fasih berbahasa Turki dan bisa berbahasa Inggris walau tidak sempurna.

Ia kemudian membawakan teh dan makanan kecil yang bukan buatan sendiri. Saya tak ambil pusing. Dia lalu duduk di dekat saya dan kami ngobrol. Kebanyakan tentang berbagai bencana yang menimpa Indonesia, lalu tentang makanan halal dan makanan apa saja yang saya buat di rumah. Sebuah kebanggaan ditanya oleh orang asing tentang kebiasaan saya membuat sendiri makanan buat anak-anak.

Tak terasa saya duduk dan ngobrol bersamanya selama dua jam! Padahal tadi saya wanti-wanti suami, "cukup satu jam saja namunya, ya. Awas kalo lebih." Di akhir obrolan dia berkata, "dont be too soft on your mother in law. you are the owner of your house." Sebuah nasehat yang mencerahkan.

Dia berkata seperti itu karena pernah juga mengalami hal yang sama. Setelah merasa hampir gila, ia memberanikan diri untuk berkata pada ibu mertuanya, "jangan datang kesini setiap hari."

Tapi mungkin bumernya tinggal jauh dari rumah dia. "Well, she drives, you know. Jadi, dia tetap bisa datang kesini kapan saja, kan?"

Setelah ia mengutarakan hal itu, keadaan malah berubah menjadi lebih akrab dan harmonis karena ia merasa membutuhkan ibu mertuanya. Bagaimanapun bumer adalah guru terbaik seorang gelin. Beliau adalah orang yang paling tepat untuk mengajarkan resep favorit keluarga (baca: suami), cara menyajikan makanan pada suami, cara menghadapi tamu dan sebagainya. Yah, itu benar. Senangnya dapat nasehat dari orang berpengalaman.

Sebelum kami pergi, Ali Osman tak lupa membereskan mainan yang sudah ia pakai main bersama Azra dan Enes Aydın, anak tuan rumah yang berusia 4 tahun. Wah, ini benar-benar diluar dugaan karena belum pernah Ali Osman semanis itu. #terharu

Kali ini saya harus mengakui, saya menikmati acara bertamu. Saya harus berterima kasih pada suami saya tapi tidak saya lakukan karena saya takut dia akan mengajak saya bertamu lagi sementara saya belum lagi menyukai acara bertamu. Yang satu ini saya bisa jadi beruntung. Alhamdulillah banyak hal yang saya dapatkan. Lain kali, bisa jadi berbeda.

Saya hanya bersyukur, ada orang lain yang pernah merasakan apa yang saya rasakan. Saya tidak sendiri.
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...