Friday, December 26, 2014

NGAJI di WARTEG: Dzikir dan Shalawat (Sebuah Renungan)


Dari Sini


Assalamualaikum.

Jujur saja, saya pernah termasuk orang yang tidak mementingkan dua hal di atas itu. Buat saya, dzikir itu dilakukan sehabis sholat. Itupun jika sedang tidak terburu-buru. Seringnya, sehabis sholat saya langsung ngacir. Ya Alloh. Astaghfirullahaladzim.

Shalawat pun mengalami nasib serupa.  Mungkin hampir tidak pernah saya merelakan diri saya solawatan, komat-kamit, bolak-balik, dalam sepi sendiri. Betapa kacaunya saya.


Dua hal itu baru saya jalani dan tekuni belakangan ini saja. Alhamdulillah. Awalnya pasti ada yang menggerakkan saya membiasakan dua hal  itu menjadi bagian hidup keseharian saya. Dengan ijin Alloh, ustadz-ustadz yang bertebaran dan beredar di televisi dan dunia maya, menjadi jalan saya melakukan dua hal tersebut. Walau belum menjadi sebuah kekuatan bagi saya pribadi, dzikir dan shalawat dengan ijin Alloh Ta’ala menjadi tambahan tenaga buat saya.

Setidaknya, satu ayat ini membuat saya terus membiasakan diri untuk berdzikir kepada Alloh. “Sesungguhnya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang.” (QS Ar Ra'd: 28). Masya Alloh. Dzikir bagai obat yang menenangkan dan menyenangkan, mengalahkan kekuatan surat cinta dari yayang. Cieee.

Dari Sini

Selain itu ada banyak sekali hadis yang menyebutkan keutamaan berdzikir kepada Alloh. Ada banyak pula bacaan dzikir yang bisa kita lantunkan dan dawamkan dalam hidup sehari-hari. Salah satu yang saya bertekad untuk tidak meninggalkannya adalah ucapan “Subhanallohu wabihamdi, subhanallohiladzim.” Ucapan yang pendek dan sederhana itu mungkin terlalu sepele di dunia tapi sangat berat timbangan kebaikannya di sisi Alloh swt. Buat saya yang ibadahnya masih berantakan, iman sering naik turun macam tegangan listrik PLN, kesolehan tidak seberapa; kalimat itu bagai harapan akan datangnya keridhoan Alloh Ta’ala atas diri saya kelak, insya Alloh di dunia dan di akhirat.

Bagaimana dengan shalawat? Ada satu hadis yang menyebutkan “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku (Rasulullah) sekali maka Alloh akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).


Dari Sini

Dan ternyata masalah shalawat ini juga disebut dalam Quran:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (QS. Al Ahzab: 56).

Disebut dalam Quran sebagai salah satu perintah Alloh. Disunnahkan oleh Rasulullah. Kurang penting bagaimana lagi? Shalawat ini bagai mantra yang bertuah bagi siapa yang melakukannya. Saya tidak akan mengatakan bahwa karena shalawat, Anda akan seperti ini dan itu tapi insya Alloh dengan ijin Alloh ada kebaikan-kebaikan yang dilimpahkan pada kita jika kita membiasakan ucapan-ucapan yang baik.

Saya tidak ingin tulisan ini membuat para pembaca lalu berpikir, “saya akan shalawat atau dzikir saja supaya apa yang saya inginkan tercapai”, tapi lantas tidak sholat atau tidak mengerjakan segala kewajiban kepada Alloh swt. Itu percuma saja.

Menjalankan semua perintah Alloh Ta’ala dan menjauhi segala laranganNya adalah sebuah kepastian yang benar bagi setiap muslim. Jika itu ditambah dengan memperbanyak dzikir dan shalawat, bisa dibayangkan dahsyatnya hidup yang akan kita jalani.

Ada orang berkata, dengan shalawat ia mendapatkan mobil baru. Ada yang bilang, shalawat mendatangkan banyak rejeki. Tentu takkan mudah untuk dipercaya. Saya tak bermaksud berbagi nikmatnya dzikir dan shalawat terhadap diri saya. Cukuplah itu menjadi rahasia saya. Jika Anda penasaran, silakan coba sendiri. Mulailah biasakan diri berdzikir dan bershalawat, merendahkan diri di hadapan Alloh serta rasulNya, mengakui kebesaranNya atas diri kita sebagai hamba dan kemudian menikmati curahan keberkahan dariNya. Insya Alloh. Semoga bermanfaat. Allohualam bishshowwab.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...