Monday, March 16, 2015

Media, Apa yang Kau Cari?

dari sini

"Yang berbahaya adalah berita-berita yang tidak berbasis fakta." 
-- Anas Urbaningrum

Assalamualaikum.

Beberapa hari yang lalu kami di Gaziantep dan di Turki umumnya dihebohkan dengan berita ini. Berita yang sangat ngaco. Berita itu tidak benar dan tidak berdasar. Selain itu, berita itu juga sudah sukses merendahkan apa yang sudah dilakukan oleh para pelajar dan mayoritas WNI di Turki umumnya untuk menjaga nama baik dan memperkenalkan Indonesia. Tapi wajar sih. Media tersebut memang cuma segitu aja bisanya kan?

Untuk teman-teman yang sudah membaca berita tersebut, berikut ini sanggahan dari saya.

Kata radikal di berita tersebut tidak jelas definisinya. Apa yang dimaksud dengan radikal? Apa dia pikir mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Turki itu radikal? Suami saya suka sekali bilang bahwa organisasi yang dia sering datangi itu mempunyai anggota-anggota yang radikal: perempuan-perempuannya berhijab tapi tidak lebar dan sebagian tidak sesuai syariat dengan warna-warna gonjreng macam spanduk; lalu kaum prianya ada yang berkumis, berjenggot, ada pula yang kelimis licin rapi.

Di kepala saya, radikal itu berarti, perempuan-perempuan berhijab lebar berwarna hitam; pria-pria berjenggot dengan penampilan bersahaja.

Dari dua orang saja, kata radikal itu sudah mempunyai dua persepsi. Si mbak yang menulis berita itu punya persepsi apa tentang radikal? Apa sudah dicek? Apa si mbak sudah main ke Turki sini, terutama Antep? Sini mba, saya kasih tau yang namanya radikal.

Terlalu banyak kata-kata di berita tersebut yang samar-samar.
"Mahasiswa yang radikal jumlahnya relatif kecil."
Relatif kecil itu berapa? Satu? Dua? Lima? Dapat data darimana?

"Semua mahasiswa Indonesia di Turki adalah penerima beasiswa."
Hahaha. Dia kira orang Turki segitu dermawannya? Mbak wartawati yang budiman, ada sekitar 1000 mahasiswa Indonesia yang belajar di Turki. Mayoritas adalah penerima beasiswa tapi ada juga yang belajar di Turki dengan biaya sendiri. Tolong deh, jadi wartawati itu jangan sok tahu.

"Mereka membantu WNI masuk Suriah".
Asal tahu saja ya mbak, orang Suriah sendiri pun belum tentu bisa keluar masuk Suriah-Turki seperti ke jamban. Sudah terlalu banyak konflik terjadi antara para pengungsi Suriah dan penduduk lokal. Kami, para WNI yang ada di Antep, beraktivitas sehari-hari tanpa dituduh sebagai orang Suriah atau pengungsi pun susah, buat apa kami memperburuk keadaan dengan membantu WNI masuk Suriah?

#LogikaManaLogika?

Berita tersebut sudah meresahkan kami para WNI yang ada di Turki dan Gaziantep khususnya. Tak hanya kami, pihak yang berwenang (KBRI dan KJRI) pun dipastikan terkena imbas pemberitaan tak bermutu tersebut.

Nara sumber berita tersebut, kabarnya, sudah mengeluarkan penjelasan bahwa berita itu tidak seperti yang dia sampaikan. Bro, ngapain juga ente bicara ke media yang udah ga bisa dipercaya itu? Atau jangan-jangan ente masih percaya? Serius masih baca berita media-media mainstream? Ga takut sakit hati kena tipu?

Berita sudah terlanjur dimuat dan dibaca publik. Klarifikasi sudah mulai dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Saya secara pribadi merasa keberatan dengan berita tersebut. Apa profesi wartawan sekarang ini sudah demikian rusaknya? Mbak, berita itu dicari loh bukan dikarang. Ga punya dana ya untuk datang kesini untuk cari dan lihat sendiri keadaan kami? Nginep tempat saya aja ga pa pa mba. Gratis.

Sini mbak, main sini ke Antep dan berbagai penjuru Turki supaya mbak tahu bahwa Indonesia itu tidak dikenal di Turki. Kami dikira orang Jepang, Malaysia, Somalia bahkan ada yang dikira Azerbaijan. Indonesia dikira bagian dari Afrika. Dan pelajar, mahasiswa, WNI umumnya dibantu KBRI dan KJRI berulang kali membuat Indonesian Day untuk meng"edukasi" masyarakat Turki. Tiba-tiba ada berita WNI hilang, gabung ISIS dan kami disebut membantu mereka gabung dengan ISIS. Sekali lagi, mbak, jangan sok tahu!

Ingatlah, untuk yang memberi berita dan memelintir berita, kelak ada kurang lebih 1000 orang di Turki yang menuntut balas atas ketidaknyamanan ini. Dimulai dari kami, di Gaziantep. Bersiaplah.

Untuk teman-teman sekalian, cerdaslah dalam membaca berita dan cobalah cek dan ricek supaya tidak mudah termakan isu-isu yang digoreng media. Goreng kok isu. Goreng tuh kacang, pisang, bakwan.

Penjelasan dari mantan ketua PPI Turki mengenai berita yang ngaco itu bisa dibaca di sini, atau silakan lihat press release dari PPI Turki dan PPI Gaziantep. Kalau ada hal yang hendak ditanyakan perihal Gaziantep, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar. Insya Alloh saya akan bantu jawab.

Foto press release dari PPI Turki:





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...