Wednesday, January 13, 2016

Catatan Mudik 3: Oleh-Oleh Mudik (Habis)

Suasana di Pusat Oleh-Oleh Mirota, Jogjakarta

Assalamualaikum.

Satu hal yang sangat "mengganggu" pikiran saat mudik adalah oleh-oleh. Walaupun oleh-oleh bersifat sukarela dan tidak ada paksaan untuk membawanya, saya tetap merasa ada yang kurang kalau mudik tak membawa oleh-oleh. Apalagi karena jarak perjalanan yang jauh. Apalagi membawa atau memberi hadiah adalah sunnah agar kita bisa saling menyayangi.

Jadilah saya menulis soal oleh-oleh ini, sebagai pengingat juga jika nanti bingung lagi saat perlu membawa oleh-oleh. Tulisan ini juga sebagai penutup dari seri Catatan Mudik saya. Silakan lihat juga catatan saya tentang Kushimoto dan bandara.

Oleh-Oleh dari Antep (Turki)
Ada banyak hal yang bisa jadi oleh-oleh dari Antep (Turki) untuk keluarga di Indonesia. Berikut ini adalah andalan saya:

1. Makanan
Biasanya, saya membawa kacang pistachio sebagai hasil bumi utama Antep. Selain pistachio, saya juga membawa kacang-kacangan lain (cerez). Perpaduan pistachio dan cerez bisa dilakukan untuk menekan harga. Jangan lupa juga membawa lokum (Turkish Delight) yang tersedia dalam berbagai rasa dan jenis serta ukuran. Lebih praktis untuk dihadiahkan kepada kerabat dan sahabat.

Pilihan oleh-oleh yang lain adalah kopi Turki, kopi menengiç (dari kacang pistachio), buah kering (kismis, peach, tin), dan mungkin penganan hasil buatan sendiri. Saya belum pernah membawa makanan khas seperti baklava atau kadayıf dan sejenisnya karena waktu tempuh yang cukup lama bisa membuat makanan tersebut rusak.

2. Bukan Makanan
Untuk kategori ini, ada banyak hal yang bisa dibawa. Andalan utama saya adalah gantungan kunci yang bisa dibeli secara grosiran. Magnet kulkas dan asesoris dari perunggu khas Antep pun bisa jadi pilihan.

Setelah beberapa sinetron Turki tayang di Indonesia, pilihan oleh-oleh melebar hingga produk kecantikan seperti pensil alis, maskara, krim pelembab dan sebagainya.

Pilihan oleh-oleh saya yang lain adalah segala sesuatu bertuliskan Istanbul atau Gaziantep atau Turkiye. Ada celemek, buku agenda, perabot dapur yang berukuran kecil, kaos bola, syal, mug, dan sebagainya. Tinggal kita sesuaikan dengan anggaran yang tersedia untuk membeli oleh-oleh tersebut.

Catatan:
Perlu dipertimbangkan untuk membawa oleh-oleh yang agak unik, seperti pisau dapur dan barang-barang yang agak mahal mengingat adanya aturan soal barang bawaan penumpang yang masuk di bandara Soekarno-Hatta. Kita hanya bisa membawa barang maksimal 250USD untuk satu orang penumpang. Jika kita membawa barang dengan harga melebihi ketentuan maka kita harus membayar pajak, sesuai ketentuan yang berlaku.

Lebih jelasnya bisa dilihat di kaskus atau bea cukai Soekarno-Hatta.
Jangan lupa untuk mengisi declaration form yang biasanya dibagikan di pesawat.

Oleh-Oleh dari Indonesia

Ada yang mau bawa ini?

Seperti juga Turki, Indonesia punya banyak pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Apalagi kalau kita sempat ke tempat wisata. Ada banyak yang bisa diborong untuk hadiah keluarga di Turki. Di Jogja, ada Mirota dan Malioboro. Di Bali, ada Krisna. Wah, bisa kalap kalau sudah berada di sana.

Dulu, saya sempat membawa buah yang sedang musim di Jakarta. Rambutan dan mangga pernah saya bawa. Duren belum pernah. Belum berani.

Tapi untuk amannya, saya lebih memilih barang-barang seperti gantungan kunci, tas belacu atau goni, kerajinan batik yang sangat variatif, dan kaos. Barang-barang tersebut lebih awet dan bisa disimpan jika tak jadi diberikan. Dan jika tak sempat membeli oleh-oleh di Jakarta, ada toko oleh-oleh di bandara Soekarno-Hatta yang bisa kita kunjungi. Silakan belanja di sana jika diperlukan.

Seperti biasa, jangan lupa untuk memperhatikan barang bawaan dan kemasannya. Usahakan kita tidak membawa barang atau oleh-oleh yang "mencurigakan" sehingga mengundang petugas untuk memeriksa dan membuka tas kita. Better be safe than sorry.

Nah, kalau teman-teman sekalian, bawa oleh-oleh apa di saat mudik?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...