Friday, June 24, 2016

NGAJI di WARTEG: Berhijab, Kenapa Warna-Warni?



Assalamualaikum.

Berhijab, kenapa warna-warni? Karena suka aja? Atau supaya cantik?

Saya termasuk yang suka melihat foto-foto hijab yang cantik dengan berbagai motif dan gaya. Sampai saya bingung, kalau berhijab seperti itu, hendak pergi kemana kiranya?

Tulisan ini bukan untuk menggugat atau menghujat para muslimah yang berhijab warna-warni memanjakan mata sehingga terlihat cantik dan menawan. Tulisan ini sekedar sebuah perenungan dari singkatnya waktu dan pendeknya pengalaman. Semoga ada manfaatnya.

Berhijab adalah sebuah perintah dari Allah swt. Dalam alquran ada ayat yang jelas memerintahkan soal hijab ini:

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali pada suami mereka, ..." (QS an-Nuur: 31)
Berhijab adalah menutupi dada dan bagian sekitarnya agar berbeda dengan pakaian perempuan jahiliyah.

Ayat ke-59 surat al-Ahzab menyebutkan:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."
Dari dua ayat itu kemudian kita memahami bahwa pakaian muslimah adalah berupa pakaian panjang dan kerudung yang menutupi dada.

Sementara "janganlah menampakkan perhiasannya" bermaksud janganlah menampakkan sesuatu dari perhiasannya kepada lelaki lain kecuali apa yang tidak bisa disembunyikan, dalam hal ini adalah wajah dan kedua telapak tangan. Demikian pendapat jumhur ulama. (Selengkapnya)

Kemudian ayat ke-33 dari surat Al-Ahzab menyatakan:
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dulu."
Karena, "Perempuan itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya), setan senantiasa mengintainya." (HR Tirmizi disahihkan oleh al-Albani)
Berhias yang dilarang dalam Islam adalah menyambung rambut, menato tubuh, mencukur alis, mengikir gigi dan mengenakan wewangian bukan untuk suaminya, memanjangkan kuku serta berhias menyerupai kaum lelaki. (Selengkapnya)

Bagaimana dengan hijab warna-warni yang sekarang marak dimana-mana? Apakah itu termasuk berhias?

Hijab adalah sebuah kata yang berarti penutup. Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk menggapainya.

Dengan berhijab berarti kita menutupi seluruh tubuh dan juga perhiasannya agar tidak terlihat oleh pihak-pihak yang memang tidak berhak melihatnya.

Umumnya perempuan berhias atau memakai perhiasan supaya terlihat cantik. Oleh karena itu berhias hanya boleh dilakukan di hadapan suami. Bagaimana bisa kita berhias lalu keluar rumah dan dipuji laki-laki lain akibat hiasan yang kita pakai? Tidakkah itu menimbulkan fitnah?

Jadi, jika kita berhijab tapi hijab kita berwarna-warni dengan motif dan segala hal yang membuatnya terlihat cantik, bukankah itu sama saja dengan berhias? Lalu apa esensi hijab sebagai penutup kalau si hijabnya tidak menutupi kita dari pandangan orang karena kita terlihat cantik dan sayang jika tak dipandang?

Kalaupun hijab warna-warni adalah sebuah kebiasaan di masyarakat dan dibolehkan memakainya, mari kita periksa hati kita. Saat hendak berhijab dan memilih pakaian, apa yang terlintas di hati? Ah, pakai yang ini biar cantik? Oh, dengan ini aku terlihat langsing? Nah, yang ini hijab yang lagi tren?

Lalu untuk apa dan siapa kita berhijab? Untuk taat kepada Allah swt yang menggenggam diri kita atau untuk sekedar dinilai cantik dan trendi oleh makhluk-makhluk yang juga berada dalam genggaman Allah swt seperti kita?

Saya sangat memahami bahwa Islam is a process of being, not a state of being. Islam adalah sebuah proses menuju kebaikan, bukan sekedar menjadi Islam lalu selesai semua urusan. Menjadi hamba Allah swt yang paling baik itu berproses. Tidak langsung menjadi yang terbaik. Dan Allah swt melihat semua upaya dan usaha kita untuk menjadi taat kepadaNya. Oleh karena itu, wahai muslimah yang solehah, mari kita renungkan lagi persoalan ini. Apakah hijab yang alhamdulillah sudah menutupi diri ini membawa kita makin dekat kepada ketaatan kepada Allah swt atau makin menjauhkan kita dari Allah swt karena kesombongan?

Semoga Ramadhan yang penuh keberkahan ini juga membawa perubahan dalam diri kita untuk menjadi muslim yang lebih baik.Aamiin.

Sumber:
Ibnu Katsir Online
Muslim.Or.Id
al Atsariyyah
Muslimah.Or:Id
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...