Friday, July 8, 2016

Ramadan Telah Usai, Meninggalkan Rindu Berderai-Derai



Assalamualaikum.

Alhamdulillahi rabbil alamin, sampai juga kita di 1 Syawal, Hari Raya Idulfitri. Hari kemenangan bagi mereka yang telah berjuang melawan hawa nafsu, mempertaruhkan segala keinginan dan menumpas begitu banyak godaan. Semoga kita adalah bagian dari mereka yang menang. Aamiin.



Idulfitri adalah sisa-sisa kerinduan. Seperti biasa, saat Idulfitri tiba, saya langsung sentimentil. Melankolis macam Betharia Sonata yang membawakan "Hati yang Luka" hingga bapak menteri penerangan pun protes keras. Tapi saya jangan diprotes, ya, pak. Hehehe.

Ramadan dan Idulfitri di Indonesia ternyata meninggalkan kesan yang teramat dalam untuk saya. Dari kebiasaan mengisi agenda Ramadan tugas dari sekolah, beramai-ramai pergi tarawih sambil ngecengin anak tetangga yang kecenya ga nyantai, hihi, hingga menikmati menu-menu berbuka khas bulan Ramadan. Segala pengalaman yang menyenangkan dan suasana kebatinan yang menenangkan terus berlanjut hingga Idulfitri tiba dengan segala tradisi mudik, kue-kue lebaran dan nostalgianya.

Nostalgia. Itulah Ramadan dan Idul fitri. Nostalgia yang tak saya dapati di Antep dan berusaha saya hadirkan dengan rindu berderai-derai. Maklum, selama tinggal di Antep, baru sekali saya bisa lebaran di tanah air. Selebihnya, kami mudik di hari bukan lebaran.

Ramadan kali ini, alhamdulillah, anak-anak sudah mulai belajar puasa dan semangat bangun sahur walau tak selalu begitu. Saya pun berhasil memenuhi beberapa target walau masih ada yang belum tercapai. Yang berhasil saya lewati adalah 29 hari tanpa drakor whatsoever, haha. Masya Allah. Sabar, ya, nanti kita nonton drakor lagi. Pencapaian lain adalah tidak menghabiskan waktu di dapur, hehehe. Mana ada puasa-puasa ngetes resep? Ga janji lah ya. Nyiksa diri aja itu mah. Ya, sesekali, demi menyiapkan sahur dan berbuka, wajar saja.

Hasrat diri ingin menikmati berbagai menu berbuka khas tanah air, apa daya bahan makanannya terbatas. Bahkan untuk soal kue kering pun, akhirnya saya membuat beberapa yang benar-benar mudah saya kerjakan tanpa banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, walau akhirnya kejar setoran di menit-menit akhir. Urusan hidangan hari raya pun membuat galau, enaknya bikin opor ayam atau ketupat rendang. Gayanya macam mau open house aja yaaa. hehehe. Padahal lebaran saya di Antep sudah bisa diprediksi: sarapan di rumah mertua sambil mendengar segala celotehnya tentang makanan hari raya khas Antep yang tak bisa saya makan dan acara nyetrika pakaian yang sudah lama tertunda. Selebihnya, tidooor. ^_^

setrikaan segunung akhirnya selesai juga,
didukung oleh dua kaleng jus jeruk plus es batu ^^!


Alhamdulillah wa syukurillah. Itu saja yang bisa terucap walau ada beberapa hal yang mengganggu pikiran dan kondisi kejiwaan. Mari belajar pasrah, menyerahkan semua urusan kepada Allah swt. Curhat sedikit kepada orang-orang terdekat, sudah. Sisanya, biar Allah swt yang menyelesaikan karena tiada daya selain dari Allah swt.

Pelajaran berharga lain yang saya dapatkan dari idulfitri tahun ini adalah tata kelola waktu pribadi yang masih buruk dan tata kelola keinginan yang masih tak terkendali. Hingga dini hari lebaran, saya masih menyiapkan bingkisan untuk keluarga yang seharusnya bisa dilakukan jauh-jauh hari cuma terhalang rasa enggan karena panas yang menjalar ke dalam rumah. Jadi, lebaran berikutnya, saya harus menyiapkan segala yang saya inginkan jauh-jauh hari atau mengontrol keinginan sesuai kemampuan dan melakukannya dalam waktu bertahap. Kira-kira begitu.

salah satu kukis target lebaran

Akhirnya dari Gaziantep di sebelah tenggara Turki, saya mengucapkan selamat hari raya Idulfitri, taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah swt mempertemukan kita kembali dengan Ramadan selanjutnya. Aamiin

Habis ini, kita syawalan yuuuk ^^!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...