Friday, December 30, 2016

Masuk Angin di Musim Dingin




Assalamualaikum.

Musim dingin memang sebuah tantangan untuk manusia yang biasa tinggal di daerah tanpa musim dingin. Bahkan manusia yang lahir di negara bermusim dingin pun kadang tak suka. Hidup sedikit lebih "keras". Berangkat sekolah atau kerja dalam suhu yang kadang di bawah nol dan suasana hari masih gelap, apalagi ketika Turki tidak lagi menerapkan Daylight Saving Time. Adzan subuh jam 6 pagi. Jam 7 pagi, di luar masih gelap gulita.

Biasanya, saya selalu sedia aneka minyak gosok untuk menghalau dingin karena saya termasuk yang gampang masuk angin. Anak-anak pun dari bayi sudah terbiasa dibalur minyak dan jadi masalah saat musim dingin, persediaan minyak menipis.



Masuk angin adalah suatu "penyakit" yang disebabkan karena berkumpulnya gas yang tidak merata di dalam tubuh. Masuk Angin diyakini menjadi penyakit yang nyata, namun saat ini belum ada bukti medis untuk mendukung klaim ini. Penyakit ini mirip influenza karena gejala dan penyebabnya hampir sama. Masuk angin biasanya dianggap sekadar mitos di dunia kedokteran tetapi kenyataannya banyak sekali penderitanya. (Wikipedia)

Musim dingin kali ini, Azra yang masuk angin. Cukup parah. Tengah malam dia bisa terbangun dan muntah-muntah. Awalnya saya ga mengira masuk angin. Saya pikir dia kebanyakan makan sesuatu. Tapi ketika ia masih saja muntah di malam berikutnya, saya pun mulai periksa.

Perutnya kembung. Celana panjang yang dia pakai melorot terus walau tebal dan berkaus kaki. Dan ia tidur di kamar yang memang dingin. Sebenarnya semua ruangan berpemanas tapi kamar yang satu itu memang lebih dingin karena temboknya langsung berhadapan dengan udara luar. Sementara kamar satunya lagi, diapit kamar dan pintu masuk gedung, jadi terhalangi dan tidak terlalu dingin.

Akhirnya, Azra harus pakai dua celana dan bagian bawah baju masuk ke dalam celana sehingga perut tertutup. Tidurnya pun pindah ke kamar yang lebih hangat. Sebelum tidur, saya memberinya air jahe. Tak lupa, tidur bersama botol berisi air hangat di perutnya, di bawah selimut tebal.

Tak lupa saya memijitnya dengan minyak kayu putih. Punggungnya langsung merah dan ia pun menangis. Setelah ia tertidur, saya melakukan ajian pamungkas. #halah ^^! Bacakan al fatihah dan 3 surat qul serta mengusap seluruh tubuhnya.

Alhamdulillah, dia tidak muntah lagi.

Masuk angin yang di Indonesia tinggal glek tolak angin cair, di Turki jadi dramatis dan menegangkan, haha. Yang pasti, peristiwa tersebut menjadi peringatan buat ibu: jangan cuek sama anak dan jangan malas bikin cemilan. Insya Allah sehat terus ya, Za.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...