Tuesday, April 14, 2015

Toilet Training



Assalamualaikum.

Toilet training. Dua kata yang mempunyai makna teramat berat, terutama buat saya. Dua kata itu tidak semudah kedengarannya. Bahkan sangat menantang dan butuh waktu cukup lama untuk melewatinya. Tapi yang pasti, seperti badai, toilet training pasti berlalu.
Jujur saja, saya terlambat melakukan toilet training buat si kembar. Mulai umur 3 tahun, bahkan hampir 4 tahun saya baru gencar "mengintimidasi" si kembar untuk toilet training. Hal itu lebih kepada saya kurang sabar dan kurang telaten melaksanakannya.

Perjalanan toilet training kami dimulai dengan menyiapkan celana berlapis plastik untuk dipakai si kembar. Beberapa saat di musim panas, saya pakaikan celana itu pada Azra dan masih jauh panggang dari api. Tak berhasil. Saya lalu menemukan sebuah mantra, "kalau kecelakaan masih terjadi, anak belum siap untuk toilet training."
Celana plastik pun masuk lemari lagi. Saya lalu berlindung di balik mantra itu. Si kembar belum siap. Jadi tak perlu dipaksa. Mantra yang lain lagi berbunyi, "Anak-anak pasti akan lepas popok, suatu hari nanti. Mereka toh ga akan masuk universitas dengan popok, kan?"

Tapi tekanan dari luar begitu kuat. İbu mertua yang terus bercerita si A atau si B sudah lepas popok. Sesama gelin yang juga sedang dalam rangka lepas popok hingga cenderung show-off. Kalau dia lihat saya ganti popok si kembar, dia akan berkomentar, "duh repot ya, mba." Kenapa situ yang repot sih? Saya yang ganti popok, kok. Sambil merem juga saya bisa. (Jadi curcol).

Akhirnya, saya berhenti mendengar suara-suara sumbang itu walau tekanan makin terasa terutama kepada si kembar. Saya tak henti ceramah setiap kali mereka masih pup dan pipis di popok. Adakalanya mereka menangis. Maafkan ibu ya, nak.

Lalu saya menaikkan intensitas tekanan: saya sita semua mainan si kembar dan laptop. Mainan akan saya berikan kalau mereka berhasil pup di toilet. Awalnya mereka marah dan menangis. Tapi lama-lama mereka pasrah.

Januari 2015, Ali Osman mulai mau pergi ke toilet. Awalnya memang hanya jongkok sebentar. Kemudian mencoba pup. Berhasil. Alhamdulillah. Segala puja-puji saya curahkan dan sebuah mobil-mobilan dari koleksi mainannya yang saya sita.

Azra masih bergeming. Masih setia dengan popok. Masih enggan ke toilet. Sembunyi kalau pup di popoknya. Hadeeeh.

Bapaknya ikut bersuara, "Umpetin semua popoknya. Jangan pakaikan popok lagi."

Jangan pakaikan popok? Apa dia lupa sekarang ini musim dingin. Kalau anak-anak tak pakai popok, ada kemungkinan pupnya atau pipisnya berceceran di karpet yang menutupi hampir seluruh lantai. Musim dingin begini bersih-bersih karpet? Kapan keringnya?

Popok menjadi senjata andalan saya karena lebih baik mereka pakai popok daripada saya harus bersih-bersih karpet. Hihi, cari aman.

Ali Osman masih terus bolak-balik ke toilet hingga Februari menjelang. Saya memperbaiki target bulanan saya: lebih sabar melakukan toilet training.

Akhirnya Azra mau juga ke toilet walau cuma sebentar. Tapi pelan-pelan ia mau bolak-balik ke toilet bahkan sekedar pipis pun. Alhamdulillah. Usai dari toilet, tak lupa ia menagih mainannya.

Nah, sekarang saya sudah sedikit lega, anak-anak sudah mau ke toilet. Popok belum saya lepas karena saya masih tak tega melihat karpet belepotan pipis. Jadi, kalau musim mulai hangat, popok boleh lepas, insya Allah. Celana plastik kembali bertugas. One step at a time.

Hal itulah yang saya pelajari dari perjalanan toilet training kami. Kita tak bisa memaksa. Anak-anak akan siap pada waktunya. Tapi memang tidak ada salahnya membiasakan untuk ke toilet. Semua kembali kepada kebiasaan dan keadaan keluarga masing-masing. Saya jadi ingat sebuah mantra yang dulu sering saya dengar ketika masih mengajar bahasa Inggris. Setiap anak yang belajar bahasa asing itu melewati fase silent period. Ia tidak akan bunyi memproduksi satu kata dalam target languagenya karena sedang menginternalisasi apa yang dia dapat. Begitupun dengan toilet training. Anak-anak tentu butuh waktu untuk memahami bahwa pipis dan pup harus pada tempat yang benar.

Tutup kuping rapat-rapat dan terus mencoba adalah juga cara mengurangi tekanan di saat melakukan toilet training. Yang pasti, ibu harus mau terus belajar dan mengoreksi diri. Jangan-jangan masalah toilet training adalah masalah ibu, bukan masalah anak.

Jadi, selamat berpetualang di dunia toilet training. Suatu hari nanti kita akan berucap, "selamat tinggal popok."
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...