Wednesday, June 10, 2015

Tentang Manner



Manner.

Kalau bermakna perilaku, ia bersinonim dengan attitude dan behavior. Perilaku yang baik, sopan santun, cara yang baik, tingkah laku yang baik. Itu semua menurut saya bisa masuk ke manner.

Dalam Islam, ada kata adab yang maknanya lebih dari sekedar sopan santun. Ia meliputi segala kebaikan akhlak dan budi yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.



Adab adalah jika kita hormat kepada orang tua kita, guru, orang-orang pandai, cerdik cendikia, ulama dan tentu saja kepada Allah SWT. Adab juga berarti menghormati sesama muslim, apalagi Rasulullah telah bersabda bahwa muslim adalah saudara. Maka, sudah sepantasnya jika kita, sebagai muslim, menjunjung tinggi adab, akhlak mulia dan budi pekerti yang baik.

Salah satu bentuk bahwa kita manusia beradab adalah kita tidak sembarangan bertindak atau bertingkah laku. Termasuk di dalamnya adalah tidak sembarangan mencaci, memaki, menghujat bahkan menyulut emosi dan pertengkaran.

Maka dalam kehidupan sehari-hari, adab bisa kita wujudkan dalam tutur kata yang baik yang keluar melalui lisan dan tulisan. Itu berarti, seharusnya, sudah tak perlu lagi ada status atau kicauan yang berisi cacian, umpatan, makian kepada sesama apalagi sesama muslim. Apa untungnya kita mencaci, memaki, mengumpat pihak-pihak tertentu di media sosial? Apa kita sudah merasa paling benar sedunia? Apa amalan kita sudah lebih baik dari yang kita caci maki itu? Apa kita sudah yakin akan masuk surga hingga mudah menghujat orang lain?

Kita belum tentu benar. Kita belum tentu paham duduk persoalan yang terjadi. Kita belum lagi cek dan ricek kanan dan kiri. Mengapa cepat sekali penilaian dan hukuman kita jatuhkan?

Wajar saja, saya emosi. Saya marah.

Emosi itu wajar tapi marah adalah sesuatu yang sebaiknya kita hindari jika kita menginginkan surga. Lagipula, ada banyak cara menyalurkan marah dan emosi. Tulislah artikel yang sekiranya mampu menyuarakan kemarahan dan menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang membuat kita marah. Cara itu lebih elegan daripada sekedar menghujat, mencaci dan memaki di media sosial.

Tulisan ini dibuat bukan karena saya sudah ahli dalam menahan amarah. Tulisan ini hadir karena saya mulai muak dengan kebiasaan kita yang mudah sekali mencap sesama muslim itu durjana. Apa kita kurang membaca quran? Bukankah Allah sudah menyuruh kita berlaku lemah lembut? Bukankah sesama muslim itu bersaudara? Bukankah Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak dan menjadi teladan bagaimana akhlak mulia itu? Apa kita bukan umat Rasulullah?

Tulisan ini pun menjadi bahan berkaca buat saya bahwa menahan amarah tidaklah mudah. Makanya, surga adalah balasan untuk mereka yang mampu menahan amarah. Tapi jika sudah marah, marilah belajar menahan diri untuk tidak menyesal nanti atas apa yang sudah terjadi. Semoga bermanfaat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...