Sunday, September 20, 2015

Menengok Segenggam Iman Anak Kita

dari Pro-U Media


Assalamualaikum.

Segenggam Iman Anak Kita. Buku ini saya beli tahun lalu, sekalian mudik ke tanah air. Tapi, saya diserang virus malas baca. Sesekali ditengok, selebihnya buku itu teronggok di lemari dan sering dikunjungi böcek. Mungkin dia juga mau baca.

Lalu saya ikut program baca buku, sehari sepuluh halaman. Alhamdulillah, ada kemajuan. Buku itu sudah berhasil saya baca walau belum selesai. Biasanya saya posting tinjauan buku setelah selesai membaca. Kali ini, memenuhi tugas dari program buku itu, saya menulis tinjauan buku ini.



Segenggam Iman Anak Kita ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim yang di twitter berakun @kupinang.

Membaca buku ini saya seperti diingatkan bahwa saya mempunyai tanggung jawab besar sebagai orang tua: tanggung jawab menjaga, mendidik dan membekali anak-anak saya sehingga kelak mereka istiqomah dalam agama Allah swt. Karena tak ada lagi yang berguna sesudah kita tiada, kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan.

"Dan hendaklah orang-orang takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan)." (QS An Nisa: 9)

Rasa takut itu pula yang membuat saya membeli dan membaca buku ini. Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya maka kita harus mau untuk terus belajar, sendiri atau bersama orang-orang yang juga mau belajar.

Buku ini menjelaskan perjalanan menjadi orang tua sejak anak lahir hingga nanti ia dewasa. Betapa saya masih jauh dari memenuhi kualifikasi sebagai orang tua yang baik dan benar, apalagi solehah. Dan dalam perjalanannya saya menemui sensasi romantisme. Ya, menjadi orang tua memang sebuah romantisme. Bagaimana kita berada di sana mendampingi amanah dari Allah swt tumbuh dan berkembang. Bagaimana rasa itu tumbuh dari yang tak peduli menjadi sangat peduli, dari yang seadanya menjadi serba ada, dari yang santai menjadi tidak santai. Saya pasti tak pernah membayangkan diri saya menjadi sangat melankolis jika mengingat anak-anak saya. Air mata yang mengintai di setiap kekuatiran dan harapan yang berhamburan di segenap tarikan napas. Semoga kelak mereka menjadi anak-anak yang soleh dan solehah, menjadi kebanggaan dunia akhirat.

Sebagai bukti bahwa saya terjebak dalam romantisme menjadi orang tua:

Tiada hujan yang kepagian.
Yang ada hanya diriku dan dirimu bercengkrama dengan isi kepala kita.

Malaikat tidak pensiun.
Ia berjaga menunggu perintah mengantar pertolongan.
Untuk diriku dan dirimu.

Lalu kita berharap,
keberkahan dari perjalanan
dan kisah cinta kita.

(kalimat pertama di bait satu dan dua, saya ambil dari buku)

Semoga bermanfaat.
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...