Friday, September 18, 2015

NGAJI di WARTEG: Haji dan Umrah Saat Masih Muda oleh Daan Aria Abijasa

dari sini


Kalau seorang tokoh intelektual mengusulkan untuk memberhentikan haji dan umroh karena pemborosan, saya justru mengusulkan semua muslim di Indonesia harus punya cita-cita naik haji dan umroh, sejak muda.

Kalau mau tahu alasan harus punya cita-cita naik haji dan umroh boleh tanya sama pasangan Miran (60) dan Darsih (55), pemulung dari Lamongan, yang tahun ini berangkat haji, hasil dari menabung selama 20 tahun saja (sumber:surabayapost.net). Atau tanya sama Pak Ansori (78), pengemis di Pasuruan, yang menabung selembar demi selembar rupiah per hari sehingga beliau bisa naik haji tahun ini (sumber: detiknews). Hari gini, dengan kondisi daftar tunggu yang bisa mencapai 10 tahun, memaksa kita untuk berniat, belajar, daftar lebih dini, untuk bisa melaksanakan Rukun Islam yang ke-5 ini. Ibadah haji harus direncanakan jauh-jauh hari, jauh-jauh bulan, bahkan jauh-jauh tahun, sehingga menjadi sebuah cita-cita. Seperti cita-cita kita menjadi seorang dokter, arsitek, polisi dan lain-lain, yang bisa tercapai sekitar sepuluh tahun kemudian dengan keyakinan, kerja keras, kesabaran, keikhlasan dan do’a.
Tanpa mengecilkan kemampuan para bapak dan ibu yang seumuran saya untuk naik haji, tapi naik haji atau umroh pada usia muda tentu saja mempunyai beberapa kelebihan.

Pertama, ibadah haji banyak mengandalkan kegiatan fisik seperti tawaf, sya’i, berkendaraan jarak jauh, berhadapan dengan perubahan cuaca, yang secara alamiah anak muda mempunyai kelebihan secara fisik.

Kedua, daya ingat dan orientasi. Kemampuan mengingat doa, adaptasi lingkungan, orientasi bangunan di Tanah Suci, orang muda belum banyak lupa. Karena itu kita sering dengar kabar yang kesasar adalah para bapak atau ibu yang sudah sepuh.

Ketiga, yang muda dihadirkan untuk membantu yang lebih tua. Semakin kita muda semakin banyak prospek ladang amal kita di sana dari mulai mendampingi kerabat atau orang tua sampai membantu sesama jemaah haji.

Keempat, jiwa petualangan yang masih menggebu. Perjalanan haji adalah petualangan, paling tidak kita membayangkan Rasulullah Saw memasuki Mekah, Nabi Ibrahim As melempar setan yang menggodanya di Jumrah-jumrah, atau membayangkan Siti Hajar berlari-lari mencari rezeki antara Safa dan Marwah. Itu semua kita laksanakan sebagai petualangan yang membuktikan ketaatan dan pencarian hikmah yang luar biasa untuk kehidupan kita di dunia. Belum lagi tempat-tempat bersejarah lainnya, yang tidak wajib dikunjungi tapi menarik untuk dijelajahi, seperti Gua Hira, tempat wahyu pertama kali diturunkan, Bukit Uhud, Masjid-masjid sekitar Madinah dan lain-lain yang bisa kita ziarahi selama 25-40 hari di Tanah Suci. Bila usia dan tenaga kita masih mampu menjelajahi itu semua, bukan tidak mungkin perjalanan haji kita dijuluki My Hajj My Adventure.

Kelima, rasa ingin tahu yang tinggi membuat kita bersemangat untuk menambah pengetahuan dengan menjelajahi bagian-bagian Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Museum Haramain di Mekah, Percetakan Al-Qur’an di Madinah dan lain-lain.

Keenam, orang muda yang berada pada usia produktif akan mempunyai kemampuan keuangan untuk menabung, sehingga semakin cepat dapat mewujudkan cita-cita naik haji. Mungkinkah kita yang masih remaja bercita-cita naik haji dan umroh? Bila orang tua kita mampu berinvestasi untuk masa depan dengan tabungan, asuransi, property dan lain-lain, bukan tidak mungkin orang tua kita bisa berinvestasi untuk anak-anaknya naik haji dan umroh. Dan dengan mendaftarkan anak-anaknya untuk naik haji sejak dini (batas usia pendaftaran haji sekarang di usia 12 tahun).

Ketujuh, ini yang paling penting, kepulangan kita dari tanah suci hendaknya membawa oleh-oleh untuk lingkungan. Bukan kurma atau kain gamis tapi oleh-oleh kesholehan. Bila sejak muda kita sudah naik haji atau umroh dengan pulang membawa perubahan kearah kebaikan sekecil apapun, atau bahkan menjadi agent of change di lingkungannya, maka banyak kesempatan baginya beramal sholeh dari sejak usia belia.

Nah, bayangkan kita yang masih muda, tapi punya semangat kayak Pak Miran, Bu Darsih dan Pak Ansori, keren! Walau ibadah haji dan umroh punya perkecualian hanya bagi yang mampu, tapi saya pernah lihat tagline sebuah travel begini : “Allah Tidak Memanggil Yang Mampu, tapi Memampukan yang Terpanggil”. Boleh dong punya cita-cita! Aamin.(Penulis, Artis, Anggota P-Project, Pembimbing Umroh Mazq Tour)

dari sini
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...