Wednesday, March 9, 2016

Beratnya Jadi Istri Orang Turki


Bunga Lily di Zorkun, Osmaniye

Assalamualaikum.

Sebelumnya, saya ingin menegaskan, tulisan ini bukan nasihat ataupun curhat, melainkan sekedar berpendapat.

Mencermati suasana di media sosial dimana beberapa istri orang Turki (selanjutnya kita sebut gelin), bergaul dan bersosialisasi, saya tak bisa lagi menahan kekepoan saya. Media sosial memang saluran termudah untuk mencurahkan segala keluh kesah. Tapi, benarkah?

Sejatinya sebuah perkawinan memang sebuah masa-masa yang berat. Dari awal, beberapa dari kita malah belum mengenal sama sekali calon suami kita kelak dan bahkan belum bisa merasakan getar-getar cinta. Baru setelah menikah, pelan-pelan, Alloh swt menghadirkan cinta dan kasih sayang plus penerimaan terhadap kebaikan serta keburukan pasangan.

Selain soal pengenalan karakter, gelin-gelin ini pun mengalami pengenalan budaya beserta gegarnya (culture shock) dan gesekan-gesekan lain yang bisa menjadi bom waktu dalam perkawinan. Ada yang bisa bertahan dengan kemudian menyadari apa yang perlu diperbaiki. Ada yang bertahan dalam keterpurukan. Ada yang terus-menerus bersikeras menuntut pengertian. Semua sah-sah saja, tergantung situasi dan kondisi masing-masing pasangan.

Idealnya, sebelum pernikahan terjadi, seorang calon gelin sudah harus mengetahui apa saja hak dan kewajibannya dalam keluarga Turki yang kelak dimasukinya. Dengan demikian, segala permasalahan bisa dipahami sebagai konsekwensi dan ujian dari pilihan yang diambil. Kita menikahi si pria Turki itu sebagai pilihan hidup, kan? Apa karena terpaksa? Atau ada yang memaksa?

Jika keadaan ideal tidak terpenuhi dan kita sudah telanjur menjadi gelin dengan keadaan perkawinan yang di luar dugaan serta bayangan, pasti ada yang bisa dilakukan.

Komplen. Mengeluh. Curhat dari yang colongan hingga yang beneran. Ribut disana sini. Boleh saja tapi ada masanya. Setahun dua tahun pertama pernikahan wajar saja aura komplen mendominasi. Setelah itu apa masih mau komplen juga? Bukankah tadi kita yang memilih menikah dengan orang Turki? Kenapa masih saja ribut di bab yang sama? Ga bosen? Susah move on?

Saya pun mengalami masa-masa curhat berkepanjangan kepada siapapun yang bersedia menyisihkan waktu dan meminjamkan telinganya. Hingga kemudian saya menghentikan segala kebiasaan curhat saya. Yang menghentikan curhat-curhat saya pada orang adalah "Kalau mau sama anaknya, harus mau juga sama ibunya."

Ya, topik curhat saya memang seputar ibu mertua tercinta. Walau sampai detik ini saya belum bisa sepenuhnya akur dengan beliau, setidaknya kebiasaan curhat dengan menyalahkan dan melihat keburukan beliau sudah lama berhenti. Seburuk-buruk manusia, apa iya tidak ada kebaikannya? Apa iya ada manusia yang buruk? Bukankah manusia adalah ciptaan Alloh swt yang sempurna?

Ada yang bilang, menjadi tua itu sebuah keniscayaan. Tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan.

Saya mengenal seorang gelin yang jungkir balik berusaha bertahan melawan berbagai rintangan dalam perkawinannya tanpa kehilangan akal sehat dan kemauan untuk menjadi dewasa. Bahkan kini ia bisa melihat "untungnya" berada dalam posisi jungkir balik itu. Subhanalloh. Jalhaesseoyo, chingu (Y).

Semua orang berbakat stres dalam berbagai bentuknya. Tapi kalau stresnya lalu diumbar di media sosial, membuat sensasi dan kehebohan, dimana rasa malu kita? Padahal malu adalah salah satu cabang iman. Apa kabarnya iman kita?




Pendeknya saya hendak berkata pernikahan yang kita jalani dengan pria Turki pilihan kita itu memang berat dan bukan tanpa konsekwensi. Tinggal di Turki, jauh dari sanak keluarga di Indonesia: konsekwensi. Tak boleh bekerja dan ganti profesi menjadi ibu RT: konsekwensi. Bertemu makanan-makanan baru yang asing di lidah: konsekwensi. Punya mertua dan keluarga dengan segala dinamikanya: konsekwensi.

Mengapa menjadi istri orang Turki itu berat?
Secara pribadi, adat dan kebiasaan yang berbeda menjadi salah satu yang terberat. Keluarga suami adalah keluarga yang sangat terbuka dan senang berkumpul, sementara saya adalah seorang yang senang menyendiri. Undangan-undangan yang kadang datang mendadak, pagi-pagi sudah menjadi masalah di antara saya dan suami. Belum lagi komplen dari mertua dan kakak ipar. Mereka bukan tidak mau menerima perbedaan tapi mereka tidak mengira bahwa gelin mereka, menantu mereka ternyata benar-benar berbeda dari mereka.

Belum lagi soal makanan. Orang Antep adalah orang yang sangat fanatik dan terlalu bangga kepada makanan khas mereka. Enak? Belum tentu. Walau Antep dinobatkan sebagai kota gastronomi oleh UNICEF, tetap saja saya tak bisa dengan senang hati menikmati makanan-makanan Antep. Jadi masalah? Pasti. Keluarga suami akan bertanya-tanya dan membahas, mengapa saya tidak makan ini dan itu yang merupakan makanan terenak di Antep.

Selain itu masih banyak hal yang bisa membuat hubungan suami-istri yang tadinya baik-baik saja menjadi kurang baik.

Kalau tak mau mengalami semuanya itu, jangan memilih untuk menikah dengan pria Turki. Atau apakah kita yakin jika menikah dengan pria dari bangsa lain, kita akan sepi dari masalah? Belum tentu juga.

Selain konsekwensi, segala hal yang tidak menyenangkan dalam pernikahan kita adalah juga nasib dan bisa jadi ujian dari Alloh swt. Dan ujian Alloh swt tidak mungkin di luar kemampuan si peserta ujian.

Jadi kalau kita hanya mampu curhat, komplen, menghina, mencaci, mengumpat, menjelek-jelekkan, mencari sensasi; kira-kira apa hasil ujian kita? Lulus? Lolos? Gagal?

Salah satu kunci untuk bisa lepas dari segala keruwetan pernikahan adalah bersyukur. Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Pernikahan adalah karunia. Kelak jika sudah terucap "alhamdulillah", hati akan terasa ringan dan Alloh akan menambah nikmat yang kita rasakan.

Jadi nikmatilah dan syukurilah. Jangan sampai Alloh swt murka karena kita lupa mensyukuri segala nikmatNya.
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...