Friday, March 18, 2016

NGAJI di WARTEG: Bersyukur, Lagi dan Lagi



Assalamualaikum.

Belakangan, saya gampang sekali terprovokasi dan terbawa emosi. Astaghfirullah. Sampai meninggalkan rasa ga nyaman dan penyesalan di belakang. Risau akan kehidupan selanjutnya. Galau apakah segala bekal yang masih sedikit akan cukup sementara jiwa ini masih saja mengikuti nafsu.

Alhamdulillah. Alloh swt masih memberi "sentilannya" dan mencurahkan kasih sayang melalu teman-teman yang senantiasa mengingatkan. Masih ada jalan untuk kembali.



Kunci melawan emosi yang mungkin lebih gede dari gaban itu adalah bersyukur, bersyukur, bersyukur. Tiada lagi selain bersyukur. Alhamdulillahi rabbil alamin.

Saya termasuk yang mudah heboh sendiri kalau diperlakukan seenak-enaknya oleh orang lain dan melihatnya sebagai masalah. Padahal di saat yang sama begitu banyak muslim di dunia menghadapi masalah yang lebih rumit dan sulit dibanding persoalan remeh-temeh yang saya hadapi.

Saya suka sekali bertanya "kenapa begini, kenapa begitu?" Tanpa menyadari bahwa pertanyaan itu membuat saya makin jauh dari menyadari segala yang sudah saya miliki.

Saya terus saja komplen, si A begini, si B begitu tanpa ingat lagi sudah begitu banyak yang Alloh swt berikan kepada saya. Dan tak berkurang walau saya tukang komplen.

Terus saja saya menempatkan diri sebagai orang "teraniaya" di saat begitu banyak nikmat Alloh swt membuat saya hidup nyaman, jauh dari aniaya. Subhanallaah.

Lalu datanglah "reminder" dari si chingu.

"Lihat anak-anak, sehat, lucu, pintar, masya Alloh. Orang lain belum tentu diberi anak oleh Alloh swt."

"Lihat suami, soleh, baik, ada di sisi. Orang lain mungkin sudah tak bersuami, atau belum punya suami, atau jauh dari suami."

"Lihat rumah, bersih, nyaman, hangat. Orang lain belum tentu lagi punya rumah."

"Lihat apa yang bisa dilakukan di rumah. Koneksi internet ada. Gadget punya. Orang lain? Belum tentu."

Baru sampai di situ, saya tertampar. Bukan lagi tersentil. Begitu banyak yang saya dapatkan tapi masih saja saya protes saat sedikit kesulitan menimpa. Intinya bukan pada materi, intinya adalah apakah kita bersyukur atas apa yang ada pada diri kita walau kecil dan terlihat biasa saja. Tapi itu adalah karunia dari Alloh swt yang Maha Sempurna.

Bagaimana jika Alloh swt melihat kita bagai manusia tak bersyukur? Padahal jelas dalam surat Ibrahim ayat 7:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."

Alhamdulillah.
Semoga Alloh swt merahmatimu, chingu.

Dari titik ini, insya Alloh, marilah kita kembali belajar bersyukur. Setidaknya, saat nafsu ingin komplen begitu membara, tunggulah sesaat dan berpikirlah. Apa perlu kita komplen? Apa kita sudah bersyukur?

Jadikan rasa syukur sebagai jalan mengingat Alloh swt karena hanya dengan mengingat Alloh swt, hati menjadi tenang. Semoga kelak rasa syukur kita bisa menjadi bekal untuk perjalanan selanjutnya. Aamiin.

Semoga bermanfaat.
Jangan lupa doakan saya, ya, teman-teman. "-"
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...