Sunday, July 17, 2016

Kudeta 16 Juli 2016 di Turki, Ulasan a la Emak-Emak

Kerumunan orang di luar bandara Ataturk Istanbul
Foto aljazeera


Assalamualaikum.

Pertengahan bulan Juli di musim panas yang membara, satu kudeta telah terjadi di Turki. Malam jadi makin gaduh hingga pagi datang. Apakah ini versi lain dari a midsummer's night dream?

*******


Jumat malam, sekitar jam 23 sekian, si chingu kirim pesan lewat whatsapp. "Serem. Ada kudeta."

Hah? Kudeta?
Mbok warteg yang udah kiyep-kiyep mau bobo langsung melek. Ga jadi ngantuk padahal abis dramathon. Hehehe.

Buka hape, cek twitter, breaking news, dan sebagainya. Ternyata bener. Istanbul dan Ankara sudah genting. Militer mengambil alih kantor berita TRT. CNN Türk dan Doğan Medya juga sempat dikuasai. Jembatan Bosporus ditutup tentara. Bandara pun kabarnya demikian.

Pak suami lagi main game. Sempet-sempetnya. Padahal tadi dia yang komplen, "Di jalan banyak polisi." Ya emang kenapa kalo banyak polisi?

"Pak, coba liat berita. Ada kudeta."

Begitu dia liat, parnonya kumat. Tapi tetep nonton berita sambil bolak-balik ngudud. Saya jadi ikut-ikutan. Bukan ikutan ngudud loh yaa, ikutan mantau berita sambil apdet info sama si chingu.

Jam 1.30 pagi, masjid dekat rumah mengumumkan agar masyarakat berkumpul di demokrasi meydanı, seperti lapangan, di tengah kota. Bahkan bis kota pun beroperasi loh malem-malem buta gitu.

Lewat streaming aljazeera, saya lihat orang-orang tumpah ruah ke jalanan memenuhi "undangan" dari masjid yang ternyata disampaikan oleh bapak presiden. Undangan itu juga disampaikan melalui sms. Pengirimnya adalah walikota setempat.

Kabar selanjutnya adalah bahwa kudeta tidak didukung oleh militer. Partai-partai oposisi pun tidak mendukung kudeta. Dan sebagainya. Jadi, siapa aktor dibalik kudeta gagal tersebut?

Secara pribadi, saya tidak mau menyebut si anu atau si inu. Saya toh bukan orang Turki. Bukan warga negara Turki. Ketika saya menyampaikan berita pun, sekedar fakta. Insya Alloh berusaha untuk tidak masuk ke dalam lingkaran konflik walau sulit dihindari.

Jadi, soal detil kudeta yang gagal bisa digugel sendiri lah yaa. Kasian loh udah susah-susah bikin google tapi ga dimanfaatkan. Jangan sampe Gaziantep dibilang Gianzep. Apalagi yang bilang news anchor. Yakin news anchor, bukan anchor kapal?

Masya Alloh teyzeciiim ^_^
Foto aljazeera

*******

Sekarang tinggal kita cermati pelajaran yang ditinggalkan peristiwa tersebut.

Pertama, saya belajar berhati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi berita pecah (breaking news), hehe. Jangan sampai kita ceroboh lalu menyampaikan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa jadi kita malah memperkeruh suasana.


Gambar di atas menunjukkan cara kita, sebagai pemirsa, menangani berita-berita yang kita peroleh sebelum kita kemudian menyebarkannya.

Kedua, saya belajar beradab dalam menyampaikan informasi. Apakah informasi yang saya sampaikan berdasarkan ilmu, bukan sekedar emosi? Apakah sekedar berbagi? Berbagi juga harus bertanggung jawab kan? Yang pasti, orang-orang pasti berbeda pendapat akan banyak hal. Akan sangat beradab jika kita menahan jempol kita untuk posting informasi yang mungkin membuat resah teman-teman yang tidak sepandangan dengan kita. Apapun yang terjadi, ukhuwah harus tetap terjalin.

Ketiga, sabar. Ini yang paling sulit. Apalagi ketika beritanya simpang siur. Yang ga tau jadi sok tau. Yang cuma dapat info sedikit seolah-olah tau segalanya. Bawaannya mau ngoreksi aja tapi apa perlunya? Gemes, banget. Debat, ga perlu lah. Masih mau rumah di surga kan? Jadi, walau emosi naik turun mengamati media sosial, sabar. Tak perlu banyak komen. Cukup tau.

Saya sempat mengoreksi twit seseorang perihal nama mantan PM Turki Ahmet Davutoğlu yang ditulis Daud Oglo. Katanya dalam bahasa Arab, jadinya memang Daud Oglo. Well, kan ngetwitnya pake bahasa Indonesia, oom. Plus, itu nama orang loh. Apa kita mau nama kita berubah mengikuti bahasa setempat? Saya sih ga mau. Tapi ya case closed. Saya pun jadi belajar juga. Apa saya bilang tadi? Sabar!

Yah begitulah.

Apapun yang terjadi di Turki, semoga Alloh swt melindungi kita semua. Kudeta adalah tidak bisa diterima, apapun alasannya, walaupun katanya presiden Erdoğan otoriter, diktator dan sebagainya. Demikian ulasan Marwan Bishara, analis politik di tv aljazeera. Dan siapapun pihak yang berada di balik aksi kudeta ini, kebenaran pasti akan terungkap.

Semoga bermanfaat.

Bahan bacaan:
Kronologi terjadinya kudeta 16 Juli 2016
Sejarah kudeta di Turki
Turkiye Hazır Hedef 2023
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...