Wednesday, October 12, 2016

Karena "I am nobody."


Assalamualaikum.

Karena "I am nobody." Dan ada terusannya, "Nobody is perfect. So, I am perfect." ^_^

Subhanallah. Engga lah ya. Kita mah emang nobody. Kita? Saya!

Iya, saya ini nobody. Setidaknya itu yang kadang saya rasakan. Saat berusaha berbagi atau mengingatkan dan respon yang saya dapatkan bukanlah yang saya harapkan, disitulah kadang saya merasa sedih. Eh, maksudnya, disitu saya merasa nobody. Jadi seperti salah sudah melakukan apa yang saya lakukan.


Tapi eniwey, baydewey, baswey, bukankah wajar kalau ada orang sekedar berbagi informasi atau mengingatkan? Soal informasinya berguna atau engga, ya setidaknya kita sudah mendapatkannya. Apa salahnya kita membalas dengan berkata, "Terima kasih." Atau, "Tfs" dan lain sebagainya.

Kalau kata Randy Pausch:
“Showing gratitude is one of the simplest yet most powerful things humans can do for each other.” 
Yang berbagi informasi, mungkin sekedar berbagi informasi. Mungkin ingin berbagi kabar baik dan rasa bahagia. Walau tidak menutup kemungkinan, dia kurang piknik juga, sih. Tapi intinya bukan itu. Intinya adalah reaksi kita saat kita mendapatkan informasi.

Pernah suatu ketika di salah satu grup, ada yang berbagi informasi yang kemudian ternyata informasi palsu (hoax). Lantas ada yang merespon dengan langsung berkata, "Itu hoax. Jangan sembarangan menyebar informasi. Cek dan ricek dulu. Salah-salah bisa dipenjara."

Wow! Iya memang sih menurut UU ITE, memang begitu. Bukan sekedar menyebarkan hoax, pasang foto orang tanpa seijin orangnya pun ada aturannya di UU tersebut.

Tapi, bukankah ada adab? Para ulama belajar adab lebih lama daripada belajar ilmu. Sedemikian pentingnya adab.

Informasi palsu bukan harus dibalas dengan kata-kata kasar. Kita tetap bisa mengingatkan dengan cara dan adab yang baik. Toh si pemberi informasi juga belum tentu paham kalau informasi darinya itu palsu. Jadi, sama-sama belajar. Sama-sama menjaga diri. Sama-sama menjaga ukhuwah.

Kembali ke "I am nobody."

Ya, sejatinya saya memang "nobody" walau kadang ingin dianggap sebagai "somebody" dan itu tidak dilakukan oleh "everybody" pastinya. Ada yang bisa menghargai ke-"nobody"-an seseorang. Ada yang tidak. Ada yang tak peduli.

Tapi tetap saja, ada adab yang harus dijaga. Jangan sampai tak ada lagi orang yang mau sedikit susah payah berbagi informasi yang bisa jadi kita butuhkan atau tak ada lagi nasihat dan pengingat atas segala tindak-tanduk kita yang tak sedap dirasa. Saat itu kita adalah pihak yang paling merugi.


“When you're screwing up and nobody says anything to you anymore, that means they've given up on you.” --Randy Pausch

Begitulah curcol dini hari ini.
Semoga bermanfaat.

Beykent, 3.13/21052016
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...