Friday, November 4, 2016

NGAJI di WARTEG: Ayo Berhijab!

Dari Muslim Designer Community

Assalamualaikum.

Berhijab. Sudah sejak remaja, saya berhijab. Waktu itu saya masih rajin les bahasa Inggris di tempat yang jauh dari rumah. Bolak-balik pake bis besar, sebelum atau sepulang sekolah. Tau sendiri kan gimana rasanya naik bis kota di Jakarta? Segala adegan ga senonoh bisa terjadi di atas bis. Jijik rasanya. Bahkan saat menunggu bis, ketika laki perempuan berkumpul, tua muda, dan sebagainya, ada rasa aneh menyerang diri saya waktu itu. Perasaan, perasaan loh yaaa, semua orang laki itu melihat ke saya. Apa dandanan saya aneh? Jaman itu remaja umumnya memilih celana jins, kaos atau kemeja, sepatu kets, plus ransel. Ga aneh kan? Tapi kenapa semua orang seperti "melihat" saya dan memperhatikan saya. Ini bukan geer loh, ini udah kelas ngeri.

Lalu curhatlah saya pada teman sebangku yang saat itu sudah berhijab. Kami dulu sekolah di salah satu sekolah unggulan di Jakarta. Berhijab di sekolah sudah tak aneh. Bahkan waktu SD pun saya sebenarnya sudah belajar berhijab tapi ga niat untuk berhijab seterusnya. Teman sebangku itu mengutip ayat berikut:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Ahzab: 59)
Ayat di atas adalah ayat yang sangat jelas dan terang mengenai hijab dan biasa disampaikan kepada para muslimah yang sudah dewasa.

Teman itu, semoga Allah merahmatinya, kemudian mendukung1000% niat saya untuk berhijab. Dia orang pertama yang menasihati, mendukung, dan menemani selama proses transisi. Dia bahkan memberikan baju-baju panjangnya buat saya. Hingga akhirnya orang tua saya yang awalnya cuek-cuek aja (ga dukung dan ga nolak juga, hehehe) memenuhi kebutuhan saya untuk berhijab. Alhamdulillah, dimudahkan Allah swt.

Sudah sedemikian panjang perjalanan saya berhijab. Apakah sudah sempurna? Tidak akan pernah sempurna, tapi bisa mencoba menjadi sempurna. Segala jenis hijab saya lewati. Dari yang gondrong (panjang lebar, maksudnya), hingga yang fashionable. Segala jenis temperamen dan perubahan sikap bak roller coaster pun saya lalui. Semuanya saya sadari sebagai proses menuju kebaikan karena Islam is a process of being, not a state of being. Sesudah memilih Islam, menjadi muslim, berhijab, bukan berarti persoalan selesai. Sesudah menjadi muslim, masih ada tingkatan mukmin, dan sebagainya, yang harus kita capai. 

Menjadi muslimah dan berhijab adalah salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah swt, salah satu cara memenuhi kewajiban, menunjukkan ketaatan kepada Ilahi. Berhijab adalah langkah awal menyempurnakan keimanan bagi para muslimah. Karenanya, jangan menunggu baik untuk berhijab. Jangan menunggu apapun karena kematian takkan menunggu. Jika sudah berniat untuk berhijab, segera wujudkan karena kata Bimbo, berbuat baik janganlah ditunda-tunda.  ^_^


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...