Wednesday, March 29, 2017

Ketika Pria Turki Cemburu




Assalamualaikum.

Ketika pria Turki cemburu. Sebenernya sih semua laki-laki itu makhluk yang pencemburu. Demikian pula perempuan. Apalagi sama pasangannya. Wajar dong cemburu sama pasangan. Pasangan yang halal loh yaa.

Kalo ada yang bilang sebelum menikah dengan pria Turki harus siap-siap menerima kenyataan kelak, istri ga boleh keluar sendirian, ga boleh maen medsos apalagi temen medsosnya laki semua, ini itu dan lain sebagainya. Wajar lah ya. Kita anggap saja itu sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang suami kepada istrinya. Lagipula apakah suami dari negara dan suku bangsa lain ga begitu?

Kalo ada yang bilang seperti di atas itu, apa kita yakin yang kita siapkan itu bener-bener menjadi kenyataan? Suami itu cemburu dan akan cemburu pada istrinya. Kadar dan level cemburunya itu kembali kepada rejeki masing-masing istri. Kenapa saya bilang rejeki? Menikah itu rejeki. Dapet suami soleh itu rejeki. Punya suami pencemburu juga rejeki sekaligus ujian kesabaran buat istri. Jadi jangan menganggap cemburu ini sesuatu yang aneh dan menakutkan dan kuno dan sebagainya.

Supaya ga stereotyping dan overgeneralization, saya akan cerita apa yang saya alami sendiri. Jika hal yang saya alami ga terjadi pada orang lain, kembali kepada pernyataan saya tadi: menikah itu rejeki dan rejeki orang beda-beda.

Suami saya termasuk makhluk pencemburu kelas dewa. Dari mulai memilih pakaian, dia udah ribet. "Bu, bajunya jangan yang itulah. Ga pantes." Kalo saya tetap keukeuh pakai baju itu, dia akan
keluarkan ajian pamungkasnya, "Ya udah kalo ga nurut sama suami." Ngeselin kan? Situ nyumpahin istri, ya, pak?

Oleh karena itu saat membeli pakaian, saya harus cobain di depan dia. Entah itu di toko atau di rumah. Kalo cocok sama seleranya, dia akan langsung memuji, "Cakep, bu." Udah gitu aja. Haha. Soal pujian untuk pakaian ini ga mesti pas baru ngepas baju sik. Seringkali di jalan atau dimanapun, dia akan kasih komentar, "Bu, jilbabnya bagus. Besok beli lagi yang kek gini, ya."

Mau tau yang mana yang dibilang bagus? Yang warnanya gelap dan panjangnya nutupin bemper, hehehe.

Saya sih ga melihat itu sebagai suatu kekurangan dalam rumah tangga atau dari pasangan. Malah saya bersyukur, suami perhatian sama istri dan membolehkan saya berpakaian sesuai tuntunan syariat. Nilai tambahnya, saat  di luar rumah, istri terlindungi dari tatapan-tatapan lelaki lain. Namanya tinggal di luar negeri, perempuan asing itu pasti jadi "tontonan" tersendiri. Walaupun si perempuan berpenampilan sesuai syariat, tetep aja lelaki ingin melihat.

Pernah suatu kali saya berkunjung ke departemen yang ga ada menterinya (baca: dept. store), saya disenyumin seorang pria Turki tak dikenal padahal saya bersama suami. Langsung aja saya buang muka, balik kanan, bubar jalan. Tapi itu ga menyurutkan usaha si pria untuk terus senyum. Pas saya tengok lagi, itu orang masih senyum-senyum. Hiyyy, kabuuuur.

Ya, mungkin saya kegeeran tapi hal semacam itu bisa terjadi.

Soal pergi keluar sendiri, suami masih membolehkan. Apalagi kalo sekedar ke market dan saat suami ga ada di rumah. Jika diperlukan, kenapa engga. Tapi selama ini, saya ga terlalu suka keluyuran keluar sendiri. Bagaimanapun Antep bukan daerah jajahan, jadi cukup bijak jika saya memilih keluar selalu bersama suami dan anak-anak. Cari aman, cuuuy.

Soal temen laki-laki di medsos, alhamdulillah saya ga punya banyak temen laki jadi ga ada larangan khusus. Plus suami tau, saya bukan orang yang seneng pasang swafoto (selfie). Kami sepakat untuk ga pamer-pamer foto pribadi. Foto yang lain aja deh. Hanya saja, pergaulan dengan lawan jenis  memang dibatasi, sesuai syariat.

Nah, kalo suami kita cemburu seperti cerita saya di atas tadi yang adalah secuil contoh dari kompleksnya hubungan antara perempuan dan laki-laki, ya biarin aja. Anggap saja dia cinta mati sama kita. Ga perlu lah kita permasalahkan dan mengajaknya ribut tiga ronde demi menjawab, "Kenapa kamu cemburuan banget sih, sayang?"

Kenapa mereka cemburu? Well, dia itu suami kita. Imam kita. Kelak, dia yang akan ditanya pertanggungjawabannya soal istri dan anak-anaknya. Kalo istri ga berhijab, suami yang ditanya. Kalo istri durhaka, suami pun ditanya. Kalo istri bekerja, suami pasti kena tanya. Pasti berat menjadi seorang suami. Ia mengambil alih tanggung jawab ayah kita dengan menerima nikah kita. Jadi wajar kan kalo dia cemburu? Tentu kita ingin selamat di dunia dan di akhirat. Dan suami pun pasti demikian. Apalagi ada perintah langsung dari Allah swt,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim: 6)

Jadi, semua kecemburuan dan larangan suami, anggap saja bagian dari usaha menjaga diri kita dari jilatan api neraka. Buang jauh-jauh prasangka. Jika memang harus dibahas, bahaslah dengan kepala dingin dalam kondisi yang santai dan menyenangkan supaya ga makin tegang. Apa begitu mudahnya? Of course... Not! Butuh waktu dan kelapangan hati untuk menerima dan menyadari bahwa nikah adalah ibadah dan suami adalah imam kita dalam rangka memnyempurnakan separuh keimanan kepada Allah swt.

Allahul musta'an.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...