Friday, April 28, 2017

NGAJI di WARTEG: DiabaikanNya




INTISARI KAJIAN
The Rabbaanians "DIABAIKAN-NYA”
Ustadz Subhan Bawazier
Rabu, 9 Rajab 1438H (5 April '17)
Sebagaimana kelanjutan pembahasan dari kajian sebelumnya, disebutkan oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ dampak maksiat kian beragam. Jika kemarin telah dibahas maksiat berdampak mengunci hati kita, kini dibahas efek dari maksiat adalah diabaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Maksiat Menyebabkan Allah Mengabaikan hamba-Nya
Demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا (١٨) اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ

وَ لا تَكُونُوا كَالَّذينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْساهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولئِكَ هُمُ (١٩)الْفاسِقُونَ

”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (18) Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”(19) (QS Al Hasyr: 18-19)

Inilah orientasi menjadi orang beriman, yakni memaksimalkan waktu dan tenaga yang dimilikinya untuk akhirat. Karena orang beriman sadar, orientasi ke akhirat adalah perintah Allah. Allah memerintahkan hamba-Nya agar bertakwa kepada-Nya. Sehingga dengan berorientasi penuh ke akhirat, akan senantiasa mengingatkan diri pada Allah.
Beda halnya dengan ahli maksiat. Orang yang melakukan maksiat tentunya telah melupakan orientasinya ke akhirat, apalagi mengingat Allah. Sehingga yang diperbuatnya adalah kemaksiatan. Inilah pokok masalahnya, ketika seorang hamba melupakan Allah, maka Allah akan mengabaikan hamba tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

”Dari Abu Hurairah – RadhiyAllahu‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Jadi secara hakikat dapatlah dipahami, bahwasanya seorang hamba yang melakukan maksiat pada kenyataannya bukan menzhalimi Rabbnya, namun dialah yang menzhalimi diri sendiri. Rabbnya tidak pernah menzhaliminya, melainkan dialah yang telah menzhalimi dirinya sendiri.

Maksiat Mengeluarkan Seorang Hamba dari Wilayah Ihsan
Secara otomatis, ketika seorang hamba melupakan Allah, maka apa-apa yang dilakukannya kerap jauh dari keberkahan. Sekalipun dirinya melakukan kebaikan, kebaikan itu tidak ada manfaatnya.
Di antara dampak perbuatan dosa adalah mengeluarkan pelakunya dari wilayah ihsan, serta mencegahnya untuk memperoleh ganjaran orang-orang yang melakukan kebaikan (muhsinin). Ihsan adalah “kesempurnaan” atau “terbaik”, adalah ketika seorang hamba beribadah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Tanda seorang hamba keluar dari wilayah ihsan ketika ibadah yang dilakukan hanyalah sebagai pengugur kewajiban. Sholat ditegakkan dengan berat hati, bukan ringan hati. Itupun hanya yang wajib, sunnah ditinggalkan. Kajian dihadiri, namun selepas itu ilmunya tidak diamalkan sepulang dari kajian. Lidahnya kering dari dzikir. Beragama sekadar euforia.
Sehingga ibadah yang dilakukannya tidak ada kebaikan untuk dirinya.

Maksiat Menghilangkan Kebaikan
Ketika beribadah seorang hamba tidak mengundang kebaikan untuk dirinya, artinya imannya mulai dipertanyakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

”…Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfal:19)

Ialah iman yang termasuk di antara sebab yang mendatangkan seluruh kebaikan. Semua kebaikan di dunia dan di akhirat tidak lain disebabkan iman.
Ibadah yang diiringi iman, insyaAllah akan mendatangkan kebaikan. Otomatis menjadikan hamba yang melakukan ibadah dengan iman tersebut masuk ke dalam wilayah ihsan. Ibadah akan dihiasi dengan sunnah. Karena dirinya menyadari, sunnah-lah yang mendatangkan kebaikan.

Maksiat Menghambat Perjalanan Hati Menuju ke Allah
Ketika ibadah dilakukan dengan berat hati, maka tentu jalur sinyal hubungannya ke Allah pun akan turut terganggu. Karena di antara dampak kemaksiatan adalah melemahkan, merintangi, menghentikan, atau memotong perjalanan hati menuju ke Allah dan negeri akhirat.
Bahkan tidak menutup kemungkinan dosa akibat maksiat tak hanya menghentikan dari melanjutkan perjalanan menuju Allah Jalla Jalaluhu, tapi juga membalikkan keinginannya.
Oleh sebab itu, jika hati sakit karena dosa, maka kekuatan yang menopangnya melemah; dan jika seluruh kekuatan itu lenyap, maka hati pun terisolir dari Allah dengan keterputusan yang sulit diperbaiki. Wallahul musta’an.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...