Sunday, June 25, 2017

Lebaran di Gaziantep: Sebuah Cerita

Assalamualaikum.

Alhamdulillah, lebaran lagi.
Kali ini, saya ingin berbagi tulisan lebaran yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu dan pernah pula dimuat di salah satu majalah yang saya lupa namanya 😆 Tapi beneran loh. Karena sudah pernah dimuat, ga papa ya saya tulis lagi di sini. Kalau ada yang keberatan, monggo dicolek-colek.

Eniweh, selamat membaca. Tak lupa dari Antep yang makin membara, saya mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat lebaran, yaaa. 💚




LEBARAN di GAZIANTEP

Musim semi 2014.

Sebentar lagi Ramadan menjelang. Langit Gaziantep masih sesekali mendung. Acara bersih-bersih tahunan yang dikenal dengan nama Spring Cleaning Time berjalan agak tersendat. Para ibu dan kaum perempuan di Turki umumnya akan disibukkan dengan ritual bersih-bersih ini karena Ramadan akan segera datang dan akan sangat berat melakukan bersih-bersih di tengah ibadah puasa yang tahun ini insya Allah berlangsung selama 18--19 jam.

Jika Ramadan tiba, hatiku langsung galau. Seperti tahun-tahun yang lalu, tahun ini pun aku takkan mudik lebaran. Keputusan untuk tidak mudik lebaran adalah sebuah keputusan realistis mengingat harga tiket yang gila-gilaan dan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak sehingga kami hanya bisa mudik di saat-saat tertentu di luar lebaran atau hari raya lainnya.

Hatiku harus berdamai dengan keadaan lebaran yang sangat berbeda. Masih kuingat Ramadan pertama yang kulalui.

Waktu itu aku sedang hamil muda, anak pertama kami yang ternyata kembar. Keadaan itu membuat semua orang mengusulkan aku untuk tidak berpuasa. Jadi, aku benar-benar makin tak semangat menjalani Ramadanku.

Tahun ini adalah tahun keempat Ramadan jatuh di musim panas. Udara di luar sangat panas. Di beberapa titik mencapai 50 derajat Celsius. Tak banyak orang rela keluar rumah kecuali untuk urusan yang maha penting. Pegawai toko tempat suam bekerjai di terminal bis antar kota pun tak berpuasa. "Panas. Haus. Tak kuat." Begitu selalu alasannya.

Aku ingat tahun lalu, seorang mahasiswa kedokteran dari Malang tiba di Gaziantep untuk belajar selama satu bulan, selama Ramadan menjelang Idulfitri. Ia tinggal di asrama yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya belajar. Hari kedua berpanas-panas dalam perjalanan dari asrama ke rumah sakit, darah mengucur dari hidungnya. Ia mimisan.

Itulah mengapa aku lebih baik mengurung diri di rumah dan baru melakukan aktifitas di luar rumah menjelang waktu berbuka. Belanja kebutuhan rumah pun dapat dilakukan malam hari karena beberapa toko dan supermarket di daerah rumah kami buka 24 jam.

Menjelang berbuka, orang Antep akan sibuk menyiapkan makanan. Mulai dari mengirim loyang-loyang berisi makanan ke fırın terdekat atau mencari es yang tampangnya seperti air kola tapi rasanya lebih aneh dari kola, meyan şerbeti.

Tidak ada menu khusus yang disiapkan untuk berbuka dan sahur. Semua sama seperti hari-hari biasa. Yang terlihat menghebohkan hanyalah si air kola gadungan itu. Acara tarawih pun tidak seramai tarawih di Indonesia. Mereka yang ingin tarawih, silakan datang di mesjid-mesjid terdekat. Yang tidak tarawih pun tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Jalanan dan taman kota tetap ramai dipenuhi orang yang piknik sekaligus berbuka puasa. Bahkan untuk urusan menentukan tanggal-tanggal penting, tidak ada keributan. Semua sudah tertera di kalender. Republik Turki akan memulai dan mengakhiri Ramadan bersama-sama plus merayakan malam Lailatul Qadar (Kadar Gecesi) bersama-sama. Tanpa ribut ini itu.

Dan segala keseragaman itupun dipuncaki dengan tiadanya takbir menjelang hari raya. Menuliskannya saja, hatiku tercekat. Malam takbiran adalah malam sejuta kenangan bagi semua orang Indonesia yang berada di perantauan. Malam dimana kesibukan akan dua kali lebih terasa karena besok adalah hari raya. Malam dimana aku biasa mencari bunga di sekitar Dago untuk menghias rumah almarhumah nenekku. Malam saat beliau sibuk masak segala macam hidangan hari raya. Malam ketika semua ribut dengan persiapan lebaran masing-masing seraya diiringi takbir yang menggema di penjuru negeri dan jauh disini, di Turki aku tak mendengarnya lagi. Ia hanya ada dalam ingatanku dan jatuh bersama air mataku.

Di tahun pertamaku di Gaziantep, aku sempat iseng menunggu takbiran. Lepas magrib kutunggu, ia tak datang. Habis isya kunanti, tak kunjung terdengar. Tengah malam, siapa yang kira-kira mau takbiran tengah malam? Hingga subuh tak jua kudengar takbir itu. Tak sesayup suara pun.

"Kenapa orang-orang ga takbiran?" tanyaku pada suami yang masih malas-malasan hendak pergi shalat Eid.

"Kami ga pake takbiran. Kami kan Hanafi." jawabnya pendek.

Aku hanya bisa termangu memandangi jalanan lewat jendela. Kaum pria berjalan menuju masjid untuk shalat Eid sementara kaum perempuan di rumah saja karena tak semua mesjid menyediakan tempat untuk perempuan shalat Eid.

Sehabis shalat Eid, ada acara makan bersama keluarga walau tak jelas pula seperti apa seharusnya. Sarapan hari raya di Gaziantep adalah sarapan seperti hari biasa. Setelah sarapan, biasanya orang-orang akan pergi bersilaturahim ke rumah sanak keluarga. Anak-anak kecil mendapatkan angpau dan cokelat serta permen. Sajian yuvalama, nasi ala Antep dan baklava sebagai pemanis pun tersedia di rumah-rumah muslim yang merayakan. Beberapa kue kering turut meramaikan suasana.

Keluarga kami biasanya pergi mengunjungi paman, kakak dari ibu mertua. Tidak hanya satu, kalau bisa semua dikunjungi. Hari libur pun habis untuk silaturahim.

Sepintas memang mirip lebaran di tanah air tapi aku rindu segala tetek bengek lebaran. Kue kering yang dibuat beramai-ramai sepanjang Ramadan, ketupat dan hidangan khas lainnya, baju dan perangkat lain yang serba baru, serta deraian air mata yang jatuh mengiringi acara silaturahim. Aku rindu lebaranku. Aku rindu kampung halamanku. Aku rindu air mata itu. Aku rindu. (TA/080514)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...