Monday, September 14, 2015

Suami Saya Orang Turki


Assalamualaikum.

Suami saya orang Turki, suami kamu orang mana?
Sebenarnya, saya ga pernah bener-bener pengen pamer kalo suami saya orang Turki. Malu. Orang lain yang punya suami orang asing juga biasa aja. Kenapa harus pamer?

Tapi, saya harus mengakui, saya bersyukur, alhamdulillah, sekarang sudah punya suami setelah perjalanan panjang yang melelahkan dan merisaukan sebagai seorang perempuan lajang. Apapun yang terjadi sekarang adalah karunia terbesar dari Alloh swt karena jujur saja, saya sempat takut dipanggil Alloh swt dalam keadaan lajang. Siapa nanti yang akan berdoa buat saya?

Menikah dengan pria Turki bukanlah sebuah keinginan atau cita-cita. Seandainya saya boleh memilih, saya ga akan milih pria Turki. Tapi, ustadz @kupinang pernah bilang "Simpanlah kata "seandainya" di dalam laci lemari dapur. Tak perlu dibuka. Kata "seandainya" hanya bermanfaat untuk merumuskan masa depan, lalu kita secara serius melakukannya. Bukan untuk meratapi masa lalu, bukan pula untuk berpanjang angan-angan." Maka jadilah, saya disini, terus belajar memahami, mengambil hikmah dan mensyukuri semuanya. Ya, semuanya, kesusahan dan kesenangan.

Menikah, dengan pria Turki atau pria dari bangsa manapun adalah sebuah mitsaqan ghaliza. Sebuah perjanjian yang kokoh yang tidak bisa diputuskan begitu saja. Bahkan bercerai adalah sesuatu yang dibolehkan tapi tidak disukai Alloh swt. Perhatikan hadis berikut:
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengirimkan pasukannya. Yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satu dari mereka datang kepadanya lalu berkata : Aku melakukan ini dan itu. Kamu tidak berbuat apa-apa ! kata Iblis. Kemudian salah satu dari mereka datang dan berkata : ‘Aku tidak meninggalkan orang itu sampai aku berhasil memisahkannya dari istrinya.’ Lalu Iblis memberinya tempat di dekatnya dan berkata : ‘Kamu adalah setan terbaik.’ (HR.Muslim,2813)
Jadi, sekali kita menikah maka itulah taruhannya kelak di hadapan Alloh swt. Kita akan ditanya tentangnya.

Menikahi pria asing, terutama pria Turki, mempunyai banyak konsekwensi yang harus kita hadapi, suka tidak suka, mau tidak mau. Konsekwensi tersebut, diantaranya:

1. Jika kita dulu adalah perempuan bekerja, setelah menikah dan pindah ke Turki, kita mungkin tak bisa bekerja seperti dulu. Waktu kita akan banyak dihabiskan di rumah. Bosan, iya, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah.

Setelah menikah, prioritas utama seorang perempuan tentunya adalah keluarganya. Jadi, jika tak bekerja lagi pun seharusnya tak masalah. Bukankah tempat perempuan adalah di rumah?
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian..." (QS Al Ahzab: 33)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

2. Jika kita pernah menjadi perempuan mandiri yang pergi melanglang buana sendirian, maka ketika sudah menikah, ada suami yang siap menemani. Saya belum pernah pergi tanpa suami. Suami saya tidak melarang saya pergi sendiri tapi juga tidak membiarkan. Buat saya hal itu malah menjadi sebuah keuntungan. Ia akan menyempatkan waktu mengantar saya ke pasar, ke rumah teman sesama WNI di kota kami, atau kemanapun yang saya mau. Daripada pergi sendiri, lebih baik pergi dengan suami. Lagipula, tuntunan Islam soal perempuan keluar rumah pun sudah jelas,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan:
“Wanita itu aurat maka bila ia keluar rumah syaitan menyambutnya.” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak boleh seorang wanita safar kecuali bersama mahramnya.” (HR. Muslim 1341)

3. Jika kita di rumah saja dan punya banyak waktu berselancar di dunia maya maka yang harus kita perhatikan adalah hati kita. Jangan sampai hati kita terkena penyakit hati seperti iri, dengki, berburuk sangka pada orang lain, ingin dipuji atau dihormati. Jangan sampai kita senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Tapi, kalau penyakit hati telanjur menghampiri maka ingatlah obat hati:

Obat hati ada lima perkaranya, yang pertama, baca quran dan maknanya. Yang kedua, shalat malam dirikanlah. Yang ketiga, berkumpullah dengan orang soleh. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima, dzikir malam perbanyaklah.

Carilah teman yang positif dan bisa mengingatkan, bukan menjerumuskan. Kalau harus melulu online, pastikan kegiatannya adalah yang bermanfaat untuk diri sendiri dan sesama.


4. Jika kita dulu adalah seorang perempuan lajang yang tak diwajibkan bersih-bersih rumah, mengurus rumah atau melakukan pekerjaan rumah tangga, maka setelah menikah, apalagi dengan pria Turki, kita bertanggung jawab atas rumah dan seluk-beluknya. Kita harus tahu kapan waktunya membersihkan rumah, kapan waktunya mencuci karpet, kapan mencuci tirai-tirai, dan sebagainya.




Soal kebersihan adalah soal penting bagi orang Turki walau standarnya bervariasi. Ada orang yang sangat bersih sehingga ia harus bebersih setiap hari. Ada orang yang seminggu beberapa kali membersihkan rumah. Ada pula yang lebih santai, yang penting bersih.

Sepertinya tidak perlu kita meributkan soal bersih-bersih ini karena tuntunan dalam Islam pun sudah jelas. (Lihat foto di atas). Yang penting adalah bagaimana kita beradaptasi terhadap kebiasaan bersih-bersih keluarga yang menjadi bagian dari hidup kita sekarang.


5. Jika kita adalah pribadi tangguh tanpa pernah mengeluh, setelah menikah ada saja yang bisa dijadikan bahan keluhan karena perbedaan situasi dan kondisi yang mencolok. Maka yang harus kita kuasai sebenarnya adalah ilmu beryukur.

Saya bukanlah orang yang ujug-ujug pandai bersyukur. Butuh proses dan pemahaman yang panjang. Butuh banyak orang soleh dan solehah yang membantu saya melalui prosesnya. Butuh kesadaran diri dan rasa menghamba pada Alloh swt. Bukan sebuah proses yang mudah tapi sangat berharga untuk dicoba.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)



Ilmu bersyukur ini terbukti ampuh menghadang segala keluhan yang tadinya akan saya tumpahkan kepada semua orang yang saya kenal. Jadi, jika mood mulai jelek, ingatlah untuk banyak bersyukur.


Orang-orang baru dalam hidup
Sebelum menikah, kita mungkin hanya fokus pada diri kita sendiri. Setelah menikah, fokus kita pun ditambah. Ada suami yang harus diurus dan ada anak-anak, kelak, yang harus dididik. Mereka menjadi bagian dari hidup kita sesudah kita menikah.

Suami, adalah orang "asing" yang kemudian melalui pernikahan, menjadi imam dan pelindung kita, yang jika kita tak menurutinya maka bisa fatal akibatnya.
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan terhadapnya), maka penghuni langit murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR. Bukhari no. 5194 dan Muslim no.1436)
Suami juga merupakan jalan kita, istri, menuju surga.
Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sungguh berat untuk taat kepada orang yang sebenarnya adalah orang lain. Sungguh berat untuk mengalahkan ego sebagai perempuan yang pernah tangguh dan mandiri untuk tunduk dan taat kepada suami, apalagi jika suami mungkin tak seperti yang kita harapkan. Sungguh berat hidup dengan segala aturan-aturan darinya yang bahkan ayah kita pun tak menerapkannya. Tapi, selama ia adalah suami yang soleh dan taat kepada Alloh swt, tidak ada alasan bagi kita untuk mengabaikannya.

Selain suami, ada pula mertua, ipar-ipar dan mungkin juga ponakan-ponakan dengan berbagai karakter dan tabiatnya. Jika kurang ilmu, kehadiran mereka bisa menjadi sumber masalah yang cukup merepotkan.

Ibu mertua yang dominan dan mungkin bisa berulang kali membuat kita kesal adalah ibu dari suami kita dan ia berhak atas suami kita (anaknya). Wajar jika ia cemburu. Wajar jika ia kuatir berlebihan.
dari Aisyah r.a. berkata:
“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya.” (HR Ahmad, An Nasa'i) 
Lagi-lagi, bukan soal yang mudah untuk menerima. Apalagi jika ibu mertua mempunyai karakter yang unik. Butuh banyak kesabaran dan pengertian untuk bisa menghormati beliau.

Belum lagi kehadiran tetangga kanan kiri atas bawah yang bisa jadi tak semuanya cocok dengan kita. Hanya Alloh swt yang bisa membolak-balikkan hati. Hanya sabar yang bisa membantu kita menahan diri.


Selamat menempuh hidup baru
Kehidupan setelah menikah adalah hidup yang benar-benar baru. Kita harus kembali menyesuaikan diri, apalagi jika suami kita adalah orang asing (dalam hal ini, orang Turki dengan segala keunikan budaya dan kebiasaannya) dan tinggal di negara asing.

Tak selamanya mendung itu kelabu. Tak selamanya hidup penuh dengan kesulitan. Tak selamanya pula hidup berhias kesenangan. Ada kalanya ujian dan cobaan datang. Bahkan perilaku kita pun bisa mengundang datangnya bencana.
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An Nisa: 79)
Sebagai penutup,

Bahagia adalah dedaunan bermandikan cahaya mentari
Duka adalah embun yang terbang di ujung pagi
Cinta adalah keduanya
Hidup adalah bersamanya 

Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...