Monday, February 8, 2016

Mengenang Guru-Guruku


Assalamualaikum.

"Hatiku hancur mengenang dikau..."

Ceritanya di satu hari minggu, mbok warteg teringat seorang gurunya. Isenglah dia gugling. Dan ternyata beliau telah tiada.

Sedihnya hati mbok warteg. Guru itu bukanlah sekedar guru. Memang bukan guru yang mengajarkannya membaca di sekolah dasar yang jasanya seumur hidup takkan sirna. Tapi sang guru itu adalah satu-satunya guru yang "dekat" dengan mbok warteg di masa-masa akhir belajar di universitas. Beliau adalah dosen pembimbing skripsi.

Berlinang air mata di pipi mbok warteg karena sedih tak sempat menemui sang guru. Sebelum beliau meninggal, mbok warteg dengar beliau dirawat di Grogol karena persoalan pribadi. Dan sebelumnya konon beliau "mencari" mbok warteg. Bagaimana tidak hancur mengenang dikau, coba???

Dulu, waktu pertama kali bimbingan skripsi, komentar sang guru adalah "Masa bikin bab pendahuluan aja ga bisa. Gimana sih?" Makjleb!

Tapi walau makjleb, sang guru adalah seseorang yang sebenarnya bisa diajak ngobrol asik. Hanya penampakannya saja yang sangat dosen. Setelan blus rapi dengan warna yang manis, kacamata, tas beserta buku-buku dan tatapan yang serius. Dosen sekali kan?

Mbok warteg memilih beliau sebagai pembimbing skripsi karena mbok warteg mengambil pengutamaan filologi dan khususnya kodikologi, bidang ilmu yang dikuasai beliau karena beliau pernah meneliti dan menuliskan hasil penelitiannya itu. Buku karya beliau seputar filologi pun tak sedikit.

Beliau adalah ibu Maria Indra Rukmi, M. Hum.

Hari minggu itu ketika mbok warteg gugling, terpampang di halaman pertama adalah berita ini.



Beliau tutup usia di bulan April 2014, menurut situs Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Padahal mbok warteg masih sempat berada di Jakarta sekitar bulan Maret 2014. Ternyata kami tak berjodoh. Dan mbok warteg sedih sekali.

Sebelum karir mengajarnya berhenti, sepertinya beliau sempat menulis tentang naskah Palembang dan memakai skripsi buatan mbok warteg sebagai salah satu rujukan. Did you really try to say goodbye, ibu?

Ketika sidang skripsi, beliau hadir dalam busana yang rapi dan sangat resmi. Tapi mbok warteg waktu itu tidak berhasil menjawab satu pertanyaan trivial dan beliau pun berkata, "Karena kamu lupa satu hal kecil yang penting dalam bidang ilmu filologi, saya beri kamu nilai A, minus."

Dia pasti kecewa, kan?!
Mbok warteg pun kecewa.
Hari minggu itu selain habis dengan urusan bersih-bersih, habis pula dengan cucuran air mata.

Dan, kehabisan kata-kata.

Lalu air mata kembali jatuh ketika menemukan kisah yang lain dari guru-guruku. Kali ini air mata rindu. Ini kisahnya.

Nyonya Fuad Hassan dan Djoko Kentjono Masuki Purna Bhakti di UI
Pengajar senior Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (JSI-FIB) Universitas Indonesia, Ny Tjiptaningrum Fuad Hassan dan Djoko Kentjono masuki masa purna bhakti di Universitas Indonesia.

Acara penghormatan kepada kedua pengajar senior Sastra Indonesia UI itu dilakukan dengan peluncuran atau pengenalan dua buku, Hikayat Tunjung Arum untuk Tjiptaningrum Fuad Hassan dan Tumbuhnya Sepucuk Taruk untuk Djoko Kentjono.

Menurut salah seorang dosen JSI-FIB UI Harimurti Kridalaksana, yang juga Rektor Universitas Atmajaya Jakarta, Djoko Kentjono adalah sosok yang gigih memperjuangkan terbentuknya ejaan yang disempurnakan (EYD). "Orang hanya tahu bahwa buku EYD itu hanya menjadi lampiran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi mereka tidak tahu perjuangan yang dilakukan Djoko Kentjono dan Basuki Suhardi pada awal 1960-an," kata Harimurti.

Harimurti juga menilai Djoko Kentjono sangat gigih membela HB Jassin dan Boen Sri Oemarjati, dua pengajar JSI-FIB yang dituduh manikebuis dan menjadi sasaran pengganyangan PKI (Partai Komunis Indonesia). "Dari situlah saya tahu bahwa para pengajar Jurusan Sastra Indonesia itu sangat solid," ujar Harimurti.

Pakar cerita anak-anak Riris Kusumawati Toha Sarumpaet mengungkapkan, sewaktu masih menjadi mahasiswa, ia mendambakan mendapat pacar seperti Djoko Kentjono, karena orangnya ganteng, putih bersih, dan rapi. "Saya mau buka rahasia bahwa ketika saya masih mahasiswa, saya ingin mendapat pendamping seperti dia," akunya yang disambut gelak tawa hadirin, yang sebagian besar guru besar Universitas Indonesia itu. 
Prof Dr Achadiati Ikram mengenang masa-masa dirinya bersama Tjiptaningrum Fuad Hassan. "Saat kami diplonco, Ibu Tjip terkenal sebagai mahasiswi yang paling cantik dan galak," katanya.

Dari pengakuan Achadiati Ikram dan Maria Indra Rukmi, terungkap pula bahwa sejak dulu Ny Fuad Hassan terkenal sebagai orang yang dermawan. "Dia sosok ibu yang baik. Ketika mengajar, ia selalu membagi-bagikan mahasiswanya permen," ujar Maria Indra Rukmi, yang kini menjadi dosen di JSI-FIB UI.

Sementara Liberty P Sihombing mengatakan, Ny Fuad Hassan adalah guru yang paling sabar. "Waktu saya kuliah, nilai Bahasa Sanskerta saya dapat ponten (nilai) 3,5. Tapi, saya kemudian dipanggil ke rumah Ibu Fuad untuk dibimbing selama dua bulan. Setelah dibimbing dengan kesabaran oleh Ibu Fuad, ponten saya untuk Bahasa Sanskerta jadi delapan."

Pakar Bahasa Betawi Muhadjir menilai Djoko Kentjono sebagai pengajar yang memperkenalkan pengetahuan linguistik modern di UI. "Waktu saya kuliah di UGM (Universitas Gadjah Mada), pengetahuan linguistik yang saya dapatkan masih sekitar tahun 1930 ke belakang, tapi di UI Djoko Kentjono mengajarkan linguistik modern, yakni linguistik pasca Bloomfield," ujar Muhadjir.

Ny Tjiptaningrum Fuad Hassan yang didampingi suaminya, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan beserta anak dan cucu, mengaku terharu dengan acara penghormatan ini. "Saya menulis sambutan ini sambil menangis, karena saya tidak mau mendengar ucapan selamat jalan, meskipun dalam hidup ini ada keniscayaan 'selamat datang' dan 'selamat jalan'. Itu semua karena saya sangat mencintai kerabat yang ada di JSI-FIB UI," kata Ny Fuad Hassan.

Sementara Djoko Kentjono teringat bahwa ia mulai mengajar pada 1961. "Murid pertama saya adalah Lucy Montolalu, yang sekarang sudah menjadi pengajar di JSI. Waktu pertama kali mengajar, saya mempersiapkan bahan pelajaran semalaman. Tapi, baru 20 menit mengajar, bahan yang saya persiapkan sudah habis. Saya langsung katakan kepada mahasiswa, inilah perkenalan kuliah saya, dan kemudian saya bubarkan," kenang Djoko Kentjono, yang dikenal semua mahasiswanya sebagai dosen yang sangat teliti dalam menulis dan bertutur kata.

Seorang alumni, Kifty, mengatakan bahwa di kalangan mahasiswa, Djoko Kentjono dikenal sebagai 'dosen malaikat'.

(snc/rc7)
dari Yahoo groups

Nama-nama yang tak asing. Sosok-sosok yang pernah lekat di hati.
Di jaman saya masih mahasiswa, Ny Fuad Hassan adalah dosen Kritik Teks 1 bersama ibu Maria Indra Rukmi, bapak Harimurti adalah dosen Sejarah Studi Bahasa Indonesia, ibu Riris Sarumpaet adalah dosen Metode Penelitian Sastra, bapak Liberty atau pak Lib mengajar Bahasa Inggris dan Semantik Leksikal dan sempat menjadi kepala jurusan, dan pak Muhadjir mengajar bahasa Arab bersama pak Hamidi yang telah meninggal dunia.

Guru-guruku sekalian, semoga Alloh swt meridhoi pekerjaan dan pengabdian kalian. Aamiin.
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...