Friday, April 1, 2016

NGAJI di WARTEG: Berpihak


Assalamualaikum.

Masih soal kaum yang empat huruf itu. Kali ini adalah soal keberpihakan. Pada siapa kita berpihak? Pada mereka atau pada kebenaran yang sudah digariskan di dalam al Quran?

Di bawah ini ada sedikit tausiyah yang semoga bisa membuka mata hati kita, kemana kita akan berpihak. Semoga bermanfaat.

Membiarkan LGBT berarti menyiapkan diri dan bumi tempat kita berpijak utk mendapat murka Allah SWT

Ada dua macam tarikan  negatif yg mesti kita kendalikan. Pertama Hawa nafsu, kedua syahwat.

Selama ini dua hal itu kita anggap sama, padahal tidak. Hawa nafsu itu tarikan yg sifatnya ke arah ego. Sedangkan syahwat itu tarikan yang sifatnya fisik/material. Silakan cek al Qur’an.

Kata syekh Abdul Qadir al-Jailani, puncak dari mempertuhankan hawa nafsu adalah mempertuhankan diri sendiri, yg tercermin dari ucapan Firaun yang menyatakan dirinya Rabb (tuhan pemelihara).

Sedangkan puncak dari pemujaan terhadap syahwat adalah homoseksual. (kisah kaum nabi Luth).

Kenapa kita mesti concern ttg LGBT, karena kalau kita lihat di Quran hukuman bagi para pemuja Hawa nafsu itu beda dengan hukuman bagi pemuja syahwat.

Pemuja hawa nafsu seperti Firaun, yg dihancurkan itu cuma Firaun dan tentara nya saja. Kota Mesir masih tetap ada.

Sedangkan pemuja syahwat itu dihancurkan sampai ke bumi tempat mereka berpijak. TOTAL!!!  Artinya kucing dan tikus liar yg numpang makan di situ ikut terkena bencana.

Dan itu bukan hanya kejadian di kota Sodom. Kita lihat pola yg sama di Pompeii, lalu di sebuah dusun kecil, Lagetang. Semuanya polanya sama. Pemujaan terhadap syahwat -> melampaui batas sampai muncul perilaku homosex -> nunggu bencana.

Bahkan itu juga yg terjadi menjelang kiamat. Dalam hadits, digambarkan manusia hilang malunya sehingga biasa untuk ngeseks di pinggir jalan.

Jadi menurut yg saya pahami, perilaku homosex tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus kita cegah... Tentunya bukan dengan memusuhi pelaku. Tapi yg kita cegah adalah tersebarnya paham tersebut.

Setidaknya bertindak agar jelas posisi kita. Misalnya tidak beli kopi di Starbucks, atau klo mampu, melakukan counter campaign atau penyadaran bagi para homosex.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah kisah tentang keberpihakan. Di saat Nabi Ibrahim dibakar raja Nimrod, seekor semut membawa setetes air. Seekor burung kemudian bertanya, "untuk apa kamu bawa air itu?"

"Ini air untuk memadamkan api yg sedang membakar kekasih Tuhan, Ibrahim."

"Hahaha... Tak akan guna air yg kamu bawa" kata burung.

"Aku tahu, tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada".

Wallahualam

Ustadz DR Muslih Abdulkarim, LC di Masjid Brimob Kelapa Dua

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...