Wednesday, February 15, 2017

Mau Nikah Sama Orang Turki. Ribet Amat Sih?!



Assalamualaikum.

Mbok warteg lagi kedinginan. Pagi-pagi cari kalorifer (pemanas) buat mojok menghangatkan badan. Maunya sih mulai rusuh di dapur tapi ada yang rusuh di pikiran. Jadi, mari rusuh di blog dulu.

Judulnya bener ya? Mau nikah sama orang Turki, ribet amat sih? Gugling ini itu. Add friend sana sini. Follow ABCDE. Tanya soal macem-macem. Memikirkan dan menguatirkan segala hal. Kenapa kita hobi bener bikin ribet hidup yang udah ribet?

Kalau mengingat pengalaman, proses pernikahan saya dengan bapake si kembar termasuk yang wus wus wus, lancar jaya. Alhamdulillah. Kenapa? Ya karena Allah swt menghendaki demikian. Saya juga masih takjub karena ternyata prosesnya lancar dan saya tau banget rasanya udah ribet ini itu ngurus pernikahan sampe stres, taunya ga jadi. #Menangis DiamDiam. Tapiii, proses yang lancar BUKAN karena saya banyak tanya dan penuh dengan persiapan fisik, mental, spiritual, finansial.

Secara fisik, saya dan bapake waktu itu emang udah siap nikah dan dalam keadaan sehat rohani dan jasmani walau kami ga ikut senam kesegaran jasmani. #apasih.

Secara mental, wallahu alam. Hahaha. Saya merasa ingin menikah dan udah bosen hidup melajang. Tapi begitu menikah sehari, seminggu, sebulan, setahun, ujian perkawinan datang silih berganti dan dalam kondisi itulah kita akhirnya paham apakah kita dulu itu memang sudah siap mental untuk menikah.

Urusan mental ini memang bisa bikin galau. Calon pengantin galau itu wajar. Galau apakah si dia itu calon terbaik. Galau apakah saya bener-bener siap. Galau apakah prosesnya njelimet bikin baper. Dan lain sebagainya.

Si galau ini pun membuat calon pengantin rusuh. Bolak-balik gugling, "karakter pria Turki". Hehehe. Ke sana ke sini mencari jawaban dari hal-hal yang harus diketahuinya. Semua orang yang berbau "Turki" dijadikan teman di medsos, padahal entah apa ada gunanya.

Sang calon pengantin lupa, hanya dengan mengingat Allah swt hati menjadi tenang. Kalau Allah swt sudah takdirkan kita berjodoh dengan orang Turki, mau ribet, mau cepet, tetap akan terjadi. Mau galau, mau selow, pasti menikah. Jadi, janganlah habiskan waktu konsultasi sama mbah Google. Perbanyak ibadah, dekati Allah. Dia yang Maha Segalanya.

Sementara itu banyak yang lupa bahwa persiapan spiritual adalah juga yang penting. Bahagia karena akan menikah dengan orang Turki, boleh-boleh saja. Tapi jangan lantas menyiksa diri dengan, "Pindah ke Turki, bawa apa aja ya?" Bawa diri, yang pasti. Urusan perut menjadi prioritas utama. Urusan hati, nanti aja. Padahal ketika gelombang ujian perkawinan datang melanda, yang pertama diserang adalah hati. Bukan perut.

Ibu mertua super cerewet. Apa yang kita rasakan? Bete atau lapar? Atau bete membawa lapar? Hehehe. Lalu mengapa kita sibuk menyiapkan segala keperluan perut dan lupa keperluan hati?

Ada baiknya sebelum menikah, tuntut ilmu agama, semampunya. Kalau ada buku-buku agama yang bisa dibawa, bawalah sebagai bekal. Perbaiki ibadah, tilawah dan amalan-amalan yang sekiranya membuat kita tetap mengingat Allah swt. Bahtera rumah tangga adalah sebuah tantangan berat dan perlu ilmu untuk mengemudikannya.

Terakhir, soal finansial. Ini sih yakin aja bahwa Allah swt sudah menjamin rejeki kita. Lah wong binatang yang bentuknya unik dan ga keliatan dimana matanya pun udah dijamin rejekinya oleh Allah swt. Apalagi kita, manusia yang diberi akal. Makhluk terbaik yang diciptakan Allah Ta'ala.

Kalau bisa dipilih yang paling penting dari semua persiapan di atas, persiapan mental spiritual adalah yang terpenting. Terutama lagi mental untuk beradaptasi. Tanpa kemampuan beradaptasi, manusia mencari masalah sendiri.

Jadi, take it easy. Menikah dengan orang Turki dan pindah ke Turki bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan dan dibikin ribet dengan segala macam pertanyaan dan tetek bengek yang ga penting. Setiap orang punya kebutuhan sendiri. Kenali kebutuhan itu dan bersiap-siaplah.

Saya pribadi lebih memilih membawa seprei kesayangan daripada menumpuk makanan Indonesia di koper ketika saya berangkat ke Gaziantep. Kenapa bawa seprei? Karena saya adalah jenis orang yang ga bisa tidur di tempat baru dan saya harap seprei dari rumah membuat saya mudah terlelap. Pendeknya, it's all about perspective. Dan udah paling bener kalau kita kembalikan semua urusan kepada Allah swt. Berharaplah hanya kepadaNya karena berharap pada manusia adalah hina.

Semoga Allah mudahkan semua urusan kita.
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...