Friday, February 27, 2015

Melayat

Assalamualaikum.

Untuk Jumat kali ini #NGAJİdiWARTEG libur dulu dan sebagai gantinya, saya ingin berbagi sesuatu dengan teman-teman semua. Semoga bermanfaat.

#########

dari Islamic Reflections


MELAYAT

Selama saya di Antep, sudah tiga kali saya pergi melayat. Sebenarnya saya tidak suka bertamu karena kendala bahasa dan perbedaan budaya. Saya langsung berontak, pikiran kacau, emosi naik turun, begitu terdengar bunyi kalimat "kita akan pergi bertamu."

Khusus untuk melayat, saya beranikan diri. Walau saya tak kenal, walau saya tak paham bahasa Turki, walau saya harus mencontek google dulu demi bisa berucap turut berdukacita, saya juga ingin mendoakan mereka, saudara-saudara muslim yang lebih dulu menghadap İlahi. Dengan begitu semoga kelak ada orang yang walau tak kenal saya, sudi mendoakan saya di saat saya dipanggil Allah. İtu pamrih bukan sih?

Acara melayat pertama adalah ke rumah keluarga ibu mertua. Saya tak ingat lagi siapa yang meninggal tapi mereka terlihat sedih sekali. Saya datang bersama ibu mertua, kakak ipar, suami dan anak-anak. Komplit. Kami tak banyak cakap. Hanya sekedar baca quran. Dan tuan rumah takjub ada bule nyasar dari İndonesia bisa baca quran. Hehehe. Masalah buta quran memang jadi masalah Turki juga. Jadi jika kita bisa baca quran itu adalah suatu kelebihan. Miris ya?

Dulu juga saya gagu dalam urusan baca quran. Cuma satu motivasi saya: ucapan ibu saya. Beliau pernah berseloroh "nanti siapa yang bacain quran kalo ibu mati?".

Waktu itu saya memang cuek banget tapi Allah kasih jalan saya untuk belajar baca quran dengan baik dan benar walau berat. Alhamdulillah, insya Allah kalau ibu saya meninggal dunia, saya bisa memenuhi hajatnya dan tak perlu bikin malu.

Acara melayat yang kedua adalah ke rumah teman suami. Ayahnya meninggal setelah lama sakit. Tak banyak air mata. Mereka seperti sudah ikhlas dengan keputusan Allah. Tak banyak acara. Mereka malah "nanggep" saya karena mungkin tak sering orang asing datang melayat di rumah orang lokal.

Terakhir, saya kembali mengunjungi keluarga ibu mertua yang diuji dengan kematian anggota keluarganya. Mereka terlibat kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi ditabrak truk dan terseret cukup jauh. Keluarga yang ditinggalkan terlihat amat berduka. Mereka menggelar acara duka di sosial tesisi, fasilitas sosial yang disediakan pemerintah.

Para tetua lalu membaca doa dan surat-surat quran: yasin, al mulk dan an naba. Saya tak tahu kenapa mereka memilih surat-surat itu. Setelah menyampaikan ucapan belasungkawa, saya dan ibu mertua pun pamit.

Sebenarnya, berita duka pertama sejak saya ada di Antep adalah dari keluarga kami sendiri. Bapak mertua meninggal tak lama setelah saya menikah. Tapi karena saya tak terlibat banyak karena sedang hamil, saya tak kena wajib melayat walau tak tinggal serumah. Saya sempat mampir dan melihat dapur sibuk berat. Ada saja perempuan yang bertugas membuat teh dan menyiapkan makanan. Teh dan gula biasanya adalah sumbangan para pelayat dan keluarga yang datang. Begitu juga makanan.

Takziyah di Antep biasanya berlangsung tiga hari walau tetap saja ada yang datang setelah tiga hari berlalu. Ada manfaat yang sangat besar dari takziyah: melunakkan hati.

Kita pasti tak tega melihat air mata jatuh berderai-derai; tak sampai hati menyaksikan musibah menimpa sesama dan kesedihan menggelayuti wajah-wajah mereka. Kita pasti ingin menguatkan, mengingatkan, memastikan mereka akan baik-baik saja dan pasti juga mendoakan semoga yang telah tiada diberi ampunan oleh Allah Ta'ala.

Kalau hal itu tak bisa membuat hati terenyuh dan teriba, apalagi yang bisa?

Maka kalimat yang saya bisa sampaikan adalah "Allah sabır versin". Semoga Allah memberi kesabaran menjalani cobaan dan ujian. Lalu yang berduka hanya bisa terisak sambil berucap terima kasih.

Jalanan basah di bulan Februari dan cuaca yang terus muram menjadi teman merenung bahwa segala kekuatiran menjadi tak penting lagi tatkala kematian datang menghampiri.
posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...