Friday, July 10, 2015

Catatan Ramadhan #4: Semaraknya Sahur

dari sini

Assalamualaikum.

Sahur adalah waktu istimewa yang diberikan Allah swt. Sahur sejatinya bukan hanya soal mengisi perut. Sahur adalah waktu yang paling tepat untuk mencari ampunan Allah swt.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758). Imam Nawawi berkata, “Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu.”
(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS Ali Imran: 17)

Selama bulan Ramadhan di Antep, ada orang-orang yang sengaja berkeliling membangunkan orang untuk sahur. Mereka disebut davulcu. Davul adalah sejenis drum yang biasanya juga ditabuh saat orang-orang merayakan pernikahan. Davulcu mengacu kepada orang yang berprofesi sebagai penabuh drum.

Saya jadi teringat masa-masa sahur di Jakarta dulu, ada beberapa masjid di sekitar rumah yang sudah mulai membangunkan orang-orang untuk sahur sejak pukul 2 pagi. "Bapak-bapak, ibu-ibu, sahur, sahur." Begitu bunyinya melalui pengeras suara masjid. Sekarang, masih boleh ga ya?

dari sini

Kembali ke davulcu. Di bulan Ramadhan, davulcu berkeliling komplek apartemen  (komplek apartemen kami, tentunya) sambil menabuh drumnya. Walaupun jaman sudah demikian canggih dan alarm yang sudah ditemukan, si davulcu tetap melakukan tugasnya. Suara drum membahana di seantero komplek.

Namun demikian, sesekali suara yang membahana itu tak terdengar. Saya tetap terlelap dan tiba-tiba suara tanda imsak hampir tiba terdengar dari masjid. Saya pun terbangun, kaget dan bingung. Kok sudah mau imsak? Pada kemana si davulcu? Alarm-alarm saya pun sepertinya mogok kerja hari itu. Akhirnya, hari itu kami hanya bisa menikmati air dan buah-buahan untuk berpuasa 17 jam ke depan. #Manyun. #KapanBuka?

Selain davulcu, restoran yang buka di waktu sahur serta supermarket yang beroperasi 24 jam ikut mewarnai keistimewaan bulan Ramadhan di Antep.

Terlepas dari semua itu, Rasulullah pernah bersabda,
“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).
Lalu yang harus diingat adalah hal-hal yang menggangu syahdunya waktu sahur. Acara televisi yang penuh senda gurau dan jauh dari manfaat, misalnya, atau makan sahur terlalu awal kemudian mengantuk malah membuat kita menyia-nyiakan waktu istimewa tersebut.

Perlu diketahui bahwa batas akhir waktu sahur adalah saat berkumandangnya adzan subuh.
”Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS Al-Baqarah: 187)
”Janganlah adzan Bilal mencegah dari sahur kamu, karena dia menyerukan adzan pada malam hari. Makan minumlah kamu hingga kamu mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum, karena dia tidak menyerukan adzan hingga terbit fajar.” (HR Bukhari, Muslim, Nasa`i, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah).
Berdasarkan hadits ini, batas akhir waktu sahur bukan fajar kadzib, melainkan fajar shadiq, yakni saat adzan Shubuh. Maka dari itu, waktu Imsak (sekitar 10 menit sebelum waktu Shubuh) bukanlah batas akhir sahur. Sebab batas akhir sahur adalah datangnya fajar shadiq (waktu Shubuh), bukan datangnya waktu Imsak. Maka jika waktu imsak tiba, makan dan minum untuk sahur masih boleh dan tidak haram.

Waktu imsak hanya untuk kehati-hatian (ihtiyath) saja, bukan batas akhir waktu sahur. Dalilnya hadits Zaid bin Tsabit RA yang berkata,”Kami pernah makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian kami berdiri untuk shalat (Shubuh).’ Lalu Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit, ‘Berapa lama antara keduanya (sahur dan shalat Shubuh)?’ Zaid bin Tsabit menjawab,’Kadarnya (lamanya) sekitar bacaan 50 ayat.” (HR Bukhari, Muslim, Nasa`i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Jadi, di hari-hari Ramadhan yang tersisa ini, mari kita perbaiki ritual sahur kita. Semarak atau tidak, di restoran atau tidak, ada supermarket yang buka 24 jam atau tidak, sahur tetaplah waktu yang istimewa untuk mencari keberkahan dan memanjatkan doa-doa kita. Jangan biarkan waktu sahur lewat begitu saja, apalagi ditemani dengan acara-acara televisi yang jauh dari ajaran syariat Islam. Semoga Allah swt mengabulkan semua doa dan menerima amal ibadah kita. Aamiin.

Sumber:
Konsultasi
Rumaysho


posted from Bloggeroid
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...