Friday, July 1, 2016

Catatan Ramadhan: Ketika Anak Belajar Puasa



Assalamualaikum.

Maafkan ini ilustrasinya agak sadis. Itu foto watermelon granita. Musim panas begini memang cocok banget bikin watermelon granita. Apalagi buat buka puasa. Pas anak-anak kami belajar puasa, permintaan es bisa dipastikan lebih banyak dari hari biasa. Dan hari itu, mereka sukses puasa sampe maghrib. Horeee. Alhamdulillah. 

Susah-susah gampang memotivasi anak untuk belajar puasa sampe maghrib. Apalagi di Turki Ramadhan kali ini berlangsung selama 17 jam. Lumayan bikin keroncongan, dangdutan, seriosaan. Dan anak-anak baru berusia lima tahun. Untuk ukuran masyarakat Turki, kasihan jika anak sekecil itu harus puasa 17 jam. Yeah right. Terus mau kapan belajarnya kalau lima tahun masih harus dikasihani?

Sebenarnya saya pun agak sangsi apakah mereka mampu menahan lapar dan haus selama 17 jam. Tapi ternyata, masya Alloh, bisa. Dan mereka baik-baik saja. Memang tidak langsung 17 jam. Hari pertama, mereka hanya mampu hingga adzan dzuhur. Begitupun hari kedua. Hari berikutnya, saya makin ahli mencari celah untuk memompa semangat mereka. Cieeeh.

Awali dengan menu sahur yang mereka sukai: buah-buahan favorit, cemilan favorit, semua yang selalu dilarang untuk dimakan. Akhiri dengan menu berbuka yang menjadi permintaan mereka, seperti watermelon granita itu contohnya. Aktivitas sehari-hari pun tidak terlalu berat. Hanya bermain, menonton youtube, sedikit belajar dan tidur. Tak lupa ikut shalat jika masuk waktu shalat. Yang paling dahsyat efeknya adalah memberi hadiah supaya mereka mau puasa hingga maghrib, atau sebulan penuh. hadiahnya tidak perlu mahal. Sesuatu yang mereka inginkan pun bisa jadi hadiah.

Hadiah untuk Puasa Penuh dari Imsak hingga Maghrib

Secara pribadi, saya lebih suka mereka berpuasa karena terlihat sekali perbedaannya. Ketika berpuasa, aktivitasnya bisa dikendalikan. Tidak terlalu agresif. Begitu mereka buka, langsung mereka kayak kuda binal. Halah. Lari sana-ini, teriak-teriak, dan sebagainya. 

Anak-anak sendiri tidak seperti tahun lalu yang dikit-dikit mengeluh minta ini itu ketika berpuasa. Mereka memang merasa lapar dan haus tapi sudah paham bahwa makan dan minum hanya boleh di waktu berbuka. Azra malah sudah tahu, supaya segar, cuci muka banyak-banyak. Haha. Awas ketelen airnya, yaaa.

Ali Osman termasuk yang super rewel. Keluhan dari "aku lapar" hingga "aku tak bisa berdiri" sudah jadi senjata andalan yang basi. Puasa ya puasa, nak. Sabar yaaa.

Jadi, alhamdulillah tahun ini anak-anak sudah mulai belajar puasa dengan tertib. Nah, untuk kali ini, saya lebih percaya better early than sorry

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...