Friday, January 13, 2017

NGAJI di WARTEG: Tidakkah Kalian Ridha?




INTISARI KAJIAN
The Rabbaanians "TIDAKKAH KALIAN RIDHA?"
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
Rabu, 8 Rabiul Awwal 1438H (7 Desember '16)

Mari kita kilas balik pada kisah Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihi wa sallam pasca melalui peperangan Hunain. Setelah melalui pertarungan yang sengit dan penuh drama heroik, kemenangan diraih atas pertolongan Allah jalla jalaluhu. Namun setelahnya, berlanjut muncul drama dalam pembagian ghanimah (harta rampasan perang).

Disebutkan ghanimah Hunain jumlahnya terbilang besar, musuh dengan berlarian meninggalkan 24.000 unta, 40.000 kambing dan 4.000 uqiyah perak. Dalam pembagiannya, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam memberikan prioritas pada para tokoh Quraisy muallaf yang dulunya pernah menyimpan rasa pemusuhan keras terhadap kaum muslimin seperti Abu Sufyan, Mu’awiyah, Suhail bin Amru.

Sehingga Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam tidak membagi sama sekali ghanimah kepada kaum Anshar. Tak ayal sebagian kaum Anshar kecewa, lalu berkata sesama mereka;

“Sungguh Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam hanya memberikan (unta-unta itu) kepada orang-orang Quraisy, sedang kepada kami tidak. Padahal, pedang-pedang kami masih berlumuran darah musuh. Semoga Allah mengampuni beliau.”

Kaum Anshar yang belum paham pada hikmah di balik pembagian ghanimah tersebut membicarakan apa yang telah dilakukan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam. Bahkan tak terhindarkan pula, sebagian mereka berkata; “Demi Allah, Rasulullah telah berpihak pada kaumnya!”

Demikiannya perkataan-perkataan tersebut berpengaruh ke dalam jiwa mereka, telah terbit prasangka Rasulullah pilih kasih dan tidak adil, dengan asumsi karena Rasulullah dan para mualaf itu memang sama-sama dari suku Quraisy.

Hingga sampai perkataan-perkataan tersebut ke telinga Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam. Menyikapi hal ini, dengan bijaksana Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam meminta kepada pemimpin Anshar, Sa’ad bin Ubadah untuk mengumpulkan seluruh kaum Anshar untuk bertemu kepada Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam. Setelah semua berkumpul dan memastikan hanya kaum Anshar yang hadir, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka:

“Wahai masyarakat Anshar, ucapan-ucapan kalian telah sampai kepadaku. Kalian telah menemukan hal yang baru dalam diri kalian karena aku. Bukankah aku telah mendatangi kalian yang saat itu dalam keadaan sesat, lalu Allah memberikan kalian hidayah; dan dalam keadaan saling bermusuhan, lalu Allah melunakkan di antara hati kalian.”

Selanjutnya pun mereka menjawab’
“Memang benar, Allah dan Rasul-Nya telah memberikan keamanan dan keutamaan.”

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam berkata lagi;
“Mengapa kalian tidak memenuhiku, hai orang-orang Anshar?”

Mereka kembali bertanya kepada Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam;
“Dengan apa kami harus memenuhimu, wahai Rasulullah? Padahal hanya milik Allah dan Rasul-nya segala keamanan dan keutamaan.”

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam menjawab dengan penuh hikmah;
“Apa pun demi Allah, seandainya kalian menghendaki, sungguh pasti kalian akan mengatakan dan membenarkan dengan sungguh-sungguh: Engkau datang (hijrah) kepada kami dalam keadaan didustakan (oleh kaum Quraisy di Makkah), lalu kami membenarkanmu; dalam keadaan terlunta-lunta lalu kami menolongmu; dalam keadaan terusir lalu kami menolongmu; dan dalam keadaan kekurangan lalu kami memberi kecukupan kepadamu. Hai kaum Anshar, apakah kalian menemukan pada diri kalian cemburu karena tidak menerima sejumput sampah dunia, padahal aku telah melunakkan suatu kaum agar mereka masuk Islam. Sedangkan kepada kalian, aku telah mewakilkan keIslaman kalian. Tidakkah kalian ridha wahai masyarakat Anshar terhadap orang yang kembali dengan kambing-kambing dan unta-unta, sementara kalian kembali bersama Rasulullah ke tempat kalian? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, seandainya tidak ada hijrah, pasti aku menjadi salah satu di antara kaum Anshar. Seandainya orang-orang berjalan ke suatu bukit dan orang-orang Anshar ke bukit yang lain, pasti aku berjalan di bukit kaum Anshar..”

Mendengar ucapan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam yang belum selesai tersebut, kaum Anshar menangis sejadi-jadinya hingga air mata mereka membasahi janggut-janggut mereka. Mereka berkata,
“Kami ridha dengan pembagian yang diberikan Rasulullah”

Kemudian Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam menutup perkataannya dengan berdoa;
“Ya Allah, sayangilah kaum Anshar juga anak-anak dan cucu-cucu mereka.”

Banyak sekali ibrah (pembelajaran) yang dapat diambil dari kisah ini. Bagi teman-teman yang berhijrah, maka berhijrah-lah untuk Surga ketimbang dunia. Karena Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam membekali pelajaran kepada kita sepatutnya menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir kita.

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

Artinya: ”Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“

Tidakkah kita ridha?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...